Jombang tak hanya melahirkan kiai, tapi juga “pendekar” pemikiran. Cak Nun dan Kiai Tar membuktikan bahwa tasawuf bukan sekadar lari dari keramaian dunia, melainkan jalan sunyi untuk semakin mencintai Indonesia.

KOSONGSATU.ID – Angin sore di Jombang era 1970-an membawa sayup-sayup pujian dari surau dan langgar, membelah hamparan sawah yang belum banyak tersentuh beton. Di kota yang dijuluki “Kota Santri” inilah, benih-benih pemikiran besar Islam Nusantara disemai.

Dari rahim pergerakan yang sama, dua tokoh besar—Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dan KH Mochammad Mukhtar Mu’thi (Kiai Tar)—merumuskan sebuah tawaran spiritual yang tak biasa: bahwa untuk dekat dengan Tuhan, seseorang tak perlu lari ke gua, melainkan harus turun ke gelanggang dunia.

Rahim Kota Santri

Jombang bukan sekadar titik di peta Jawa Timur; ia adalah ibu kota kultural bagi pesantren tradisional di Jawa. Kiai Tar, yang lahir di Desa Losari pada tahun 1928, digembleng di Pesantren Darul Ulum dan Bahrul Ulum.

Sementara itu, Cak Nun yang lahir pada 1953 di wilayah yang sama, tumbuh melahap diskursus keagamaan dari kiai-kiai besar di kampungnya. Sejarawan lokal kerap menempatkan Jombang sebagai kawah candradimuka.

Di sinilah Cak Nun kemudian dikenal sebagai salah satu dari “Tiga Pendekar Jombang” bersama Gus Dur dan Cak Nur, yang membedah keilmuan klasik pesantren dengan pisau analisis kekinian.

Tasawuf sebagai “Software” Kehidupan

Bagi masyarakat era Orde Baru hingga pasca-Reformasi, tasawuf kerap diidentikkan dengan uzlah—menarik diri dari ingar-bingar duniawi. Namun, kedua tokoh ini menawarkan paradigma Neo-Sufisme. Cak Nun memiliki analogi yang sangat populer di kalangan jamaah Maiyah.

“Sufisme itu ibarat software (perangkat lunak) yang bisa diinstal ke dalam semua hardware,” tuturnya dalam berbagai kesempatan.

Artinya, tasawuf bisa diunduh oleh siapa saja, dari petani, pejabat, hingga pedagang, mirip sistem operasi pintar yang bisa menyesuaikan kapasitas perangkat penggunanya.

Di sisi lain, Kiai Tar melalui Tarekat Shiddiqiyyah yang berpusat di Ploso, Jombang, menerjemahkan hal serupa lewat doktrin “Sufisme Kerja” atau dzikir kerja.

Bekerja merajut bambu atau memajukan ekonomi kerakyatan dipandang sebagai zikir fisik. Keduanya sepakat: keringat manusia yang bekerja keras demi keluarga dan sesama adalah bentuk kesalehan sosial yang setara dengan rapalan doa di keheningan malam.

Hubbul Wathon minal Iman

Satu benang merah paling pekat dari kedua tokoh ini adalah visi kebangsaan mereka. Di pesantren Shiddiqiyyah, nasionalisme bukanlah sisipan, melainkan fondasi.

Kiai Tar memelopori jargon “Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa”—diambil langsung dari naskah Proklamasi—sebagai napas pergerakannya.

Napas yang sama berembus di Maiyah. Cak Nun bersama Kiai Kanjeng secara konsisten menjadikan kebudayaan lokal sebagai kendaraan spiritual. Melalui album bertajuk Bermusik kepada Allah, untuk Indonesia, Maiyah, Tanah Air, Cak Nun mempertegas bahwa mencintai Indonesia adalah manifestasi iman.

Keduanya menolak bentuk spiritualitas yang mencabut manusia dari akar tanah kelahirannya.

Menghadapi Realitas Duniawi

Bagaimana keduanya memandang konflik dan tantangan sosial politik? Cak Nun memberikan metafora sepak bola. Dunia ini, menurutnya, membutuhkan “tim iblis” sebagai sparring partner.

Jika manusia bisa menjegal godaan korupsi, keserakahan, dan perpecahan, itulah kemenangan besar yang sesungguhnya. Ajaran ini beresonansi kuat dengan prinsip Shiddiqiyyah tentang kesatuan realitas (sunnatullah), di mana ragam perbedaan politik hanyalah partikularitas semu yang pada akhirnya harus bermuara pada persatuan universal bangsa.

Pada akhirnya, jejak Cak Nun dan Kiai Tar di Jombang adalah bukti sejarah bahwa Islam Nusantara tidak pernah gagap menghadapi modernitas. Melalui pendekatan Neo-Sufisme, mereka tidak menyuruh pengikutnya untuk mengutuk dunia yang semakin riuh, melainkan membekali mereka dengan “perangkat lunak” spiritual.

Jombang telah melahirkan sebuah warisan penting: bahwa puncak dari pencarian Tuhan sering kali tidak ditemukan di langit yang jauh, melainkan di atas tanah air sendiri, di tengah peluh pekerjaan sehari-hari, dan di dalam hati yang mencintai bangsanya.***

Daftar Referensi:

  • ​Nadjib, Emha Ainun. (1995). Nasionalisme Muhammad: Islam Menyongsong Masa Depan. Yogyakarta: SIPRESS. (Menjadi rujukan untuk pemikiran kebangsaan dan Islam Cak Nun).
  • Nadjib, Emha Ainun. (1991). Slilit Sang Kiai. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
  • Nadjib, Emha Ainun. (1994). Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai. Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara.
  • Nadjib, Emha Ainun & Kiai Kanjeng. (2001). Bermusik kepada Allah, untuk Indonesia, Maiyah, Tanah Air (Dokumentasi Audio/Budaya).
  • Howell, Julia Day. (2001). “Sufism and the Indonesian Islamic Revival”. The Journal of Asian Studies, 60(3), 701-729. (Rujukan utama mengenai kebangkitan Neo-Sufisme dan Sufisme urban di Indonesia).
  • Sukamto. (2001). Kepemimpinan Kiai dalam Tarekat Shiddiqiyyah (Studi Kasus di Pesantren Majma’al Bahroin, Ploso, Jombang). Yogyakarta: LKPSM. (Rujukan spesifik mengenai sejarah Kiai Tar, pesantren Ploso, dan doktrin Hubbul Wathon minal Iman).
  • Zulkifli. (2003). Sufism in Java: The Role of the Pesantren in the Maintenance of Sufism in Java. Leiden: INIS. (Rujukan untuk tradisi tarekat di lingkungan pesantren Jawa Timur, khususnya Jombang).
  • Muzakki, Akhmad. (2012). Kultur Komodifikasi Agama: Fenomena Pengajian Urban. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press. (Menjelaskan fenomena jamaah Maiyah, konsep tasawuf sebagai software/operating system, dan daya tariknya bagi kalangan urban profesional).
  • Latif, Yudi. (2011). Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. (Konteks sejarah perpaduan Islam dan Nasionalisme, relevan dengan jargon Proklamasi yang diusung Shiddiqiyyah).
  • Fatah, A., & Hadi, S. (2018). “Dzikir Kerja dan Pemberdayaan Ekonomi Umat dalam Tarekat Shiddiqiyyah Jombang.” Jurnal Sosiologi Agama. (Menjelaskan secara rinci praktik tasawuf aktif lewat kerajinan bambu dan pandan yang disebutkan dalam artikel).
  • Hidayat, Rachmad. (2014). “Maiyah dan Pencarian Identitas Anak Muda Era Pasca-Reformasi.” Jurnal Studi Pemuda. (Membahas analogi sepak bola, sparring partner, dan pandangan sunnatullah dalam forum Padhang Mbulan).