Di utara Sungai Brantas, sebuah gerakan spiritual lahir bukan sekadar mencari Tuhan, tapi untuk mencintai Indonesia. Inilah kisah Tarekat Shiddiqiyyah Jombang dan ajaran Hubbul Wathon yang sukses menjadi tameng NKRI dari gempuran radikalisme.
KOSONGSATU.ID – Pada dekade 1970-an, arus deras Sungai Brantas seolah membelah Jombang menjadi dua peradaban yang bertolak belakang: tradisi santri di pesisir selatan dan kultur abangan di utara. Di tengah pusaran sosiologis inilah Kyai Moch. Mukhtar Mu’thi hadir merajut jalan spiritual baru, menanamkan doktrin Hubbul Wathon Minal Iman secara mutlak kepada para pengikutnya.
Siapa sangka, laku tasawuf yang lahir untuk merangkul masyarakat pinggiran ini kelak membuktikan tajinya sebagai pilar anti-radikalisme yang kokoh, di mana janji untuk setia menjaga keutuhan Ibu Pertiwi diikrarkan sama sucinya dengan menjaga keimanan.
Menembus Batas Kultur Abangan
Kyai Muchtar Mu’thi, sosok karismatik yang lahir di Losari Rowo pada 14 Oktober 1928, memahami betul lanskap batin masyarakat utara Brantas. Wilayah Ploso saat itu belum seagamis kawasan Tebuireng atau Tambakberas. Alih-alih memaksakan literatur fikih dan hukum syariat yang kaku pada masyarakat yang belum siap, ia menempuh jalan sunyi.
Ia merangkul mereka lewat pendekatan spiritual: membagikan amalan dzikir, melakukan pengobatan, hingga merehabilitasi pemuda yang tersesat oleh narkotika. Strategi kultural ini terbukti jitu menembus benteng kaum abangan yang secara historis lebih meminati hal-hal berbau kesaktian dan kemanfaatan praktis.
Melalui ikatan batin (rabithah) yang kuat antara mursyid dan murid, Tarekat Shiddiqiyyah perlahan merayap naik menjadi sebuah kekuatan sosial baru di Jawa Timur.
Doktrin Cinta Tanah Air sebagai Identitas
Satu hal mendasar yang membuat Shiddiqiyyah tampil beda dalam peta sejarah tarekat di Indonesia adalah fusi antara tasawuf dan nasionalisme. Kiai Mukhtar tidak sekadar mengajarkan ritus di atas sajadah, melainkan menanamkan doktrin Hubbul Wathon Minal Iman (cinta tanah air sebagian dari iman) ke dalam urat nadi ajarannya.
Filosofi ini tidak lahir dari ruang kosong. Sang Kiai mengajarkan bahwa manusia diciptakan Tuhan dari dua unsur utama: tanah dan air. Oleh karenanya, manusia memiliki kewajiban teologis untuk menghormati dan mencintai tempatnya berpijak sebagai wujud rasa syukur tertinggi.
Saking fundamentalnya ajaran ini, setiap pengikut (murid) yang baru dibaiat diwajibkan mengucap delapan kesanggupan, yang salah satunya berbunyi lantang: “Sanggup cinta tanah air Indonesia.”
Kesaksian Intelektual: Benteng Melawan Radikalisme
Di era modern, di mana infiltrasi ideologi transnasional mencoba merobohkan fondasi negara, ajaran historis Shiddiqiyyah menemukan urgensi politiknya. Dr. Ainur Rofiq Al-Amin, akademisi UIN Sunan Ampel dan mantan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang kini mengajar di lingkungan Pesantren Tambakberas, memotret fenomena ini secara kritis.
Dalam kajian akademiknya, Ainur Rofiq mencatat bahwa Tarekat Shiddiqiyyah secara sadar telah memosisikan diri sebagai antitesis bagi kelompok radikal.
Menurutnya, relasi antara Islam dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah relasi yang final dan saling membutuhkan. Gagasan sistem khilafah yang digaungkan kelompok radikal hanyalah ilusi politik yang ahistoris di bumi Nusantara.
“Nilai-nilai kelima sila dalam Pancasila sangat mungkin dan harus ditafsirkan agar selaras dengan ajaran-ajaran Islam,” catat Ainur Rofiq dalam argumen deradikalisasinya.
Penanaman rasa cinta tanah air berbasis tarekat ini terbukti ampuh menjadi imun bagi masyarakat agar tidak mudah termakan provokasi untuk mengganti haluan negara.
Mewujudkan Nilai Langit di Bumi
Kecintaan pada Republik ini pantang berhenti sebagai orasi di mimbar masjid. Shiddiqiyyah menerjemahkan nasionalisme mereka dalam arsitektur dan aksi sosial nyata. Di Pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman, Jombang, berdirilah Monumen Hubbul Wathon sebagai pengingat visual akan pengabdian pada nusa dan bangsa.
Mereka juga menyusun kurikulum kebangsaan Tarbiyyah Hifdhul Ghulam wal Banat (THGB), mewajibkan pembacaan Pancasila di setiap awal pelajaran. Lewat organisasi Dhilaal Berkat Rahmat Allah (DIBRA), para penganut tarekat ini membedah ratusan rumah tidak layak huni bagi fakir miskin dan korban bencana dari Aceh hingga Yogyakarta, serta menyalurkan santunan nasional berskala besar.
Sejarah Tarekat Shiddiqiyyah di Jombang meninggalkan satu pelajaran penting: spiritualitas yang mendalam tidak pernah menjauhkan manusia dari realitas sosialnya. Di tengah gempuran ideologi yang kerap mempertentangkan agama dan negara, warisan laku Hubbul Wathon Minal Iman membuktikan bahwa mencintai Indonesia adalah pengejawantahan dari penghambaan sejati kepada Sang Pencipta.
Tarekat ini menjadi saksi hidup bahwa jalan menuju langit selalu dapat dimulai dengan menebarkan kasih sayang dan merawat kebangsaan di atas tanah air sendiri.***
Daftar Pustaka
- Al-Amin, Ainur Rofiq. (2012). Membongkar Proyek Khilafah ala Hizbut Tahrir di Indonesia. Yogyakarta: PT. LKiS Printing Cemerlang.
- Al-Amin, Ainur Rofiq. (2017). Proyek Khilafah HTI Perspektif Kritis. Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara.
- Al-Amin, Ainur Rofiq. (2017). Khilafah HTI dalam Timbangan. Jakarta: Pustaka Harakatuna.
- Al-Amin, Ainur Rofiq. (2019). Mematahkan Argumen Hizbut Tahrir. Jakarta: Wahid Foundation.
- Al-Amin, Ainur Rofiq. (2020). Kontranarasi Melawan Kaum Khilafers: Bacaan Praktis bagi Gen Y dan Gen Z. Yogyakarta: BILDUNG.
- Al-Amin, Ainur Rofiq, et al. (2024). Becoming a ‘Fortress of Love’ for the Motherland: The Role of Local Sufi Order in Indonesia. (Kajian Akademik terkait peran sosial-politik Tarekat Shiddiqiyyah).
- Catatan Sejarah Lokal Kabupaten Jombang mengenai penyebaran agama Islam di wilayah pesisir Sungai Brantas (Utara dan Selatan) pada era 1950-1970an.





Tinggalkan Balasan