Abu berdiameter maksimal 2 milimeter, tetapi partikel terkecilnya dapat menembus paru-paru, merusak turbin pesawat, dan membebani atap hingga puluhan ton.
KOSONGSATU.ID — Ketika abu Anak Krakatau bergerak melintasi Selat Sunda pada Minggu, 6 September 2026, ancamannya tidak berhenti di sekitar kawah. Citra satelit memperlihatkan material itu menjangkau Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melacak abu hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur dan 50.000 kaki ke arah barat. Sedikitnya 18 peringatan cuaca penerbangan atau Significant Meteorological Information diterbitkan dalam satu episode erupsi.
Sebaran tersebut memaksa delapan bandara ditutup sementara. Kementerian Perhubungan mencatat sedikitnya 467 penerbangan dan sekitar 150 ribu penumpang terdampak hingga Minggu sore.
Gangguan berskala luas itu berasal dari partikel yang sebagian lebih kecil daripada butiran pasir. Namanya memang abu, tetapi material tersebut bukan sisa pembakaran seperti abu kayu.
Batu dan Kaca yang Dipecahkan Tekanan Gas
Badan Survei Geologi Amerika Serikat atau USGS mendefinisikan abu vulkanik sebagai pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berdiameter kurang dari 2 milimeter. Material ini keras, abrasif, tidak larut dalam air, dan dapat menghantarkan listrik ketika basah.
Abu terbentuk ketika gas yang terlarut dalam magma mengembang saat tekanan menurun. Gelembung gas kemudian memecah magma menjadi serpihan kecil yang mendingin cepat di udara.
Ledakan juga dapat meremukkan batuan lama pada dinding kawah dan saluran magma. Karena itu, satu sampel abu dapat berisi campuran material magma baru, kristal mineral, serta pecahan tubuh gunung yang lebih tua.
Bagian kaca vulkanik terbentuk ketika lelehan magma membeku terlalu cepat untuk menyusun kristal secara sempurna. Bentuk pecahannya kerap menyudut dan bergerigi, menyerupai kaca yang dihancurkan hingga sangat halus.
Mineral di dalamnya bergantung pada jenis magma. Feldspar, piroksen, amfibol, kuarsa, serta mineral yang kaya besi dan magnesium dapat muncul dalam proporsi berbeda pada setiap gunung dan episode erupsi.
Permukaan partikel juga dapat menangkap sulfur, klorin, fluor, dan unsur lain dari gas vulkanik. Ketika terkena air, lapisan kimia itu dapat terlepas, mengubah tingkat keasaman air atau tanah serta mempercepat korosi.
Karena itu, sulfur dioksida bukan tepat disebut sebagai “isi” padat abu. Gas tersebut dapat berada bersama awan abu atau membentuk senyawa yang menempel pada permukaan partikelnya.

Batas Dua Milimeter Tidak Menjelaskan Risiko Paru-paru
Definisi geologi memasukkan semua partikel di bawah 2 milimeter sebagai abu. Namun, ukuran yang menentukan risiko pernapasan berada jauh di bawah batas tersebut.
Partikel berdiameter 10 mikrometer atau lebih kecil—dikenal sebagai PM10—dapat terhirup ke saluran pernapasan. Ukurannya sekitar 200 kali lebih kecil daripada batas maksimum abu vulkanik.
Fraksi yang lebih halus dapat masuk lebih dalam ke paru-paru. Besarnya risiko bergantung pada konsentrasi abu di udara, lama paparan, proporsi partikel halus, kondisi angin, serta penyakit yang telah diderita seseorang.
Jaringan Bahaya Kesehatan Vulkanik Internasional atau IVHHN mencatat gejala akut paling umum berupa hidung dan tenggorokan teriritasi, batuk kering, napas tidak nyaman, serta sesak. Penderita asma, bronkitis, emfisema, dan penyakit jantung berat menghadapi risiko lebih tinggi.
Bahaya jangka panjang tidak boleh disamaratakan. Kandungan silikon dioksida di dalam kaca vulkanik berbeda dari silika kristalin yang dapat memicu silikosis.
Menurut IVHHN, penyakit paru-paru kronis itu umumnya memerlukan tiga kondisi sekaligus: abu sangat halus, mengandung silika kristalin, serta terhirup dalam konsentrasi tinggi selama bertahun-tahun. Karena komposisi setiap erupsi berbeda, sampel abu perlu diuji sebelum risikonya disimpulkan.
Mata menghadapi bahaya mekanis yang lebih langsung. Butiran keras dapat menyebabkan iritasi, konjungtivitis, bahkan goresan pada kornea—terutama pada pengguna lensa kontak.
Masker N95 atau standar setara seperti P2 dan FFP2 merupakan perlindungan yang paling efektif bagi orang dewasa apabila terpasang rapat. Namun, masker penyaring partikel tidak melindungi pemakainya dari gas seperti sulfur dioksida.
“Apabila masa sebaran masih banyak, kemudian paper test-nya masih positif, maka kami tidak akan memaksakan bandara tersebut dibuka,” kata Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi saat memantau Bandara Soekarno-Hatta pada 6 September.
Mengapa Mesin Pesawat Bisa Kehilangan Tenaga?
Ancaman abu terhadap penerbangan bukan semata-mata karena jarak pandang. Awan abu dapat menyerupai awan cuaca biasa, terutama pada malam hari, sementara radar cuaca di pesawat tidak selalu mampu mengenalinya.
Ketika pesawat jet masuk ke awan abu, partikel tersedot ke mesin bersama udara. Sebagian material kaca dapat meleleh di ruang bakar, lalu menempel dan membeku kembali pada bagian turbin yang lebih dingin.
Lapisan tersebut mengganggu aliran udara dan proses pembakaran. Akibat terburuknya ialah flameout, yakni padamnya pembakaran yang membuat mesin kehilangan tenaga.
Abu juga dapat mengikis bilah mesin, menyumbat saluran, merusak sensor, dan menggores kaca kokpit hingga pandangan pilot terganggu. Kerusakan dapat terjadi meskipun pesawat berhasil keluar dari awan dan mendarat dengan selamat.
Bahaya itu pernah terlihat pada KLM Penerbangan 867 pada Desember 1989. Pesawat Boeing 747 yang membawa 231 penumpang memasuki awan abu Gunung Redoubt di Alaska dan kehilangan tenaga pada keempat mesinnya.
Pesawat turun lebih dari 3 kilometer dalam sekitar lima menit sebelum awak berhasil menghidupkan kembali mesin. USGS mencatat biaya perbaikannya mencapai sekitar USD80 juta, termasuk penggantian keempat mesin.
Peristiwa tersebut menjelaskan mengapa penutupan bandara dapat dilakukan meski abu di permukaan terlihat tipis. Dalam keselamatan penerbangan, persoalannya bukan hanya seberapa tebal endapan di landasan, tetapi juga posisi dan konsentrasi abu pada jalur terbang.
Saat Basah, Bebannya Bisa Berlipat Dua
Di darat, sifat abu berubah ketika bertemu air. Endapannya menjadi lebih padat, licin, sulit dipindahkan, dan dapat menghantarkan listrik sehingga mengganggu jaringan serta peralatan elektronik.
USGS memperkirakan lapisan abu kering setebal sekitar 10 sentimeter dapat membebani permukaan sebesar 65–110 kilogram per meter persegi. Ketika basah, bebannya bisa menjadi dua kali lipat.
Jika endapan merata pada atap seluas 100 meter persegi, beban kasarnya dapat mencapai 6,5–11 ton dalam kondisi kering. Dalam keadaan basah, angkanya dapat meningkat menjadi sekitar 13–22 ton.
Karena itu, abu tidak tepat disebut “relatif ringan”. Ketebalan, kadar air, kepadatan material, kemiringan atap, dan kekuatan bangunan menentukan apakah endapan berubah menjadi ancaman keruntuhan.
Pembersihan juga membawa risiko. IVHHN menyarankan abu dibasahi sedikit agar tidak kembali beterbangan, tetapi penggunaan air berlebihan di atas atap justru menambah beban.
Pada kendaraan, abu dapat menyumbat penyaring udara dan mengikis bagian yang bergerak. Di jalan, lapisan tipis sekalipun dapat menutup marka, mengurangi jarak pandang, dan membuat permukaan licin saat kering maupun basah.
Dampaknya terhadap pertanian juga tidak tunggal. Endapan tebal menutupi daun, menghambat fotosintesis, menambah beban pada batang, serta mencemari pakan dan sumber air ternak.
Dalam jangka panjang, sebagian abu memang dapat memperbaiki aerasi, daya simpan air, dan kandungan mineral tanah setelah mengalami pelapukan. Namun, manfaat itu bukan pupuk instan dan sangat bergantung pada ketebalan, komposisi abu, iklim, serta karakter tanah.
Panduan USGS menyebut endapan di bawah 5 sentimeter umumnya dapat tercampur secara alami. Pada ketebalan 5–15 sentimeter, pengolahan tanah mungkin diperlukan, sedangkan endapan di atas 15 sentimeter harus dinilai kasus per kasus.
Abu yang bergerak ratusan kilometer dari Anak Krakatau menunjukkan bahwa bahaya erupsi tidak selalu datang dalam bentuk lava atau batu pijar. Kadang-kadang ancaman terluas justru berupa serpihan kaca yang nyaris tak terlihat—cukup kecil untuk masuk ke paru-paru, tetapi cukup keras untuk menghentikan mesin pesawat.***





Tinggalkan Balasan