Atap asbes memicu lonjakan kanker paru pada usia muda. Penggunaan material tradisional seperti ijuk dan rumbia bukan sekadar kearifan lokal, melainkan solusi arsitektur berkelanjutan yang aman.
KOSONGSATU.ID – Presiden Prabowo Subianto menyebut banyak anak-anak muda di Indonesia mengidap kanker paru akibat paparan serat atap asbes. Kondisi ini memicu urgensi peralihan massal ke material atap yang lebih aman.
“Begitu banyak nanti penyakit paru-paru tanpa kita sadari. Orang-orang muda sudah kena kanker paru-paru padahal dia enggak merokok. Dari mana? Ya dari karat, dari asbes,” kata Prabowo di Stasiun Semarang Tawang, Jateng, Kamis (30/7/2026).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan tidak ada batas aman untuk pajanan asbes. Serat halusnya memicu asbestosis hingga kanker langka mesothelioma. Gejalanya baru muncul puluhan tahun setelah paparan awal.
Ihwal bahaya ini, lebih dari 60 negara melarang keras penggunaannya. Namun, Indonesia masih memperbolehkan asbes jenis chrysotile. Setiap pemotongan atap tua akan melepaskan serat beracun yang mengendap di paru-paru.
Ketangguhan Ekologis Nusantara
Merespons krisis tersebut, arsitektur tradisional berbasis ijuk menawarkan solusi aman. Material dari pohon aren ini terbukti sangat kuat dan mendapat pengakuan dari berbagai pakar internasional.
Di Jawa Barat, Kampung Naga membuktikan ketangguhan ijuk pada struktur rumah panggung Sunda. Atap bernama hanteup ini mampu bertahan 40 tahun berkat teknik perawatan pengasapan secara berkala.
Pemukiman tersebut bahkan meraih sertifikat bangunan hijau dari Green Building Council of Indonesia (GBCI). Praktiknya didasari falsafah hidup bersama alam yang terus menjaga keseimbangan ekosistem lokal.
Pakar teknik asal Jerman juga sangat mengagumi pemakaian ijuk pada Rumah Gadang di Sumatera Barat. Desain arsitektur ini diakui ramah gempa dan memiliki sirkulasi udara optimal bagi kawasan tropis.
Sains di Balik Rumbia
Selain ijuk, atap rumbia terbukti memiliki insulasi termal yang sangat istimewa. Konduktivitas termalnya hanya 0,169 W/m.K, jauh lebih rendah dari insulasi atap logam seng yang mencapai 116 W/m.K.




Tinggalkan Balasan