Di tengah rupiah goyah dan harga naik, semangat gotong royong tak mati. Dari platform Bagirata yang bantu pekerja informal sampai koperasi digital petani, Indonesia sedang membuktikan budaya lama bisa menjawab tantangan zaman sekarang.

KOSONGSATU.ID – Rupiah lagi-lagi goyah, harga bahan bakar dan pangan naik, mahasiswa turun ke jalan. Di saat seperti ini, banyak orang bertanya-tanya: apa yang masih bisa menyatukan kita? 

Jawabannya mungkin bukan datang dari kebijakan baru atau bantuan luar negeri, melainkan dari sesuatu yang sudah mengalir dalam darah bangsa ini sejak lama: gotong royong.

Kita semua tahu istilah itu. Dulu, di kampung-kampung, gotong royong artinya bahu-membahu membersihkan selokan, membangun rumah tetangga, atau menolong saat panen gagal. Hari ini, di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang macet dan desa-desa yang berjuang dengan harga pupuk, semangat itu terasa seperti kenangan lama yang hampir pudar. Padahal, justru sekarang kita paling butuh.

Ketika Ekonomi Menggigit, Persatuan Jadi Obat

Beberapa minggu terakhir, berita ekonomi tak henti-hentinya bikin gelisah. 

Rupiah sempat menyentuh level terendah. Subsidi bahan bakar membengkak karena gejolak global. Program makan siang gratis yang digadang-gadang pemerintah menuai kritik karena dianggap kurang tepat sasaran. Mahasiswa di berbagai kota protes karena merasa beban sehari-hari semakin berat, sementara janji kesejahteraan terasa masih jauh.

Di balik angka-angka itu, ada cerita manusia. Seorang ibu di pasar tradisional Surabaya yang harus memilih antara membeli beras atau bayar sekolah anak. Seorang petani di Jawa Tengah panennya bagus, tapi harga jual anjlok. Ada juga pekerja harian di konstruksi Jakarta yang khawatir proyek macet karena investor ragu.

Di situasi inilah gotong royong bukan lagi sekadar ritual kampung, tapi modal nyata. 

Banyak komunitas kecil sudah membuktikannya. Ada kelompok ibu-ibu yang saling pinjam-meminjam modal usaha kecil, model tanggung renteng yang membuat risiko gagal tidak dipikul sendirian. Ada petani yang bergabung dalam koperasi untuk tawar-menawar harga lebih baik ke tengkulak.