Kisah dari lereng Gunung Halimun ini menjadi bukti nyata sekaligus teguran halus: jawaban atas krisis energi kita sebenarnya telah lama berakar pada kearifan lokal Nusantara.
KOSONGSATU.ID — Indonesia berdiam di atas hamparan surga energi. Namun, ironi kerap menyapa lewat pemadaman listrik yang sesekali masih menghantui wilayah padat penduduk dan pusat ekonomi seperti Jawa dan Bali. Kegelapan sejenak di kota besar sering kali memicu kepanikan massal, menghentikan roda industri, dan melumpuhkan jaringan komunikasi.
Ironi ini terasa semakin tajam jika kita menilik kekayaan alam Nusantara. Indonesia memiliki potensi energi air terbarukan (hidro energi) yang sangat masif. Potensi tersebut mencapai 75.684 megawatt (MW) atau setara 6,3 miliar ton minyak. Sayangnya, optimalisasi kekayaan ini masih tertatih.
Pemanfaatannya baru menembus angka 3,3 juta ton minyak. Di tengah paradoks krisis energi kota dan melimpahnya sumber daya alam, sebuah desa terpencil di ketinggian Gunung Halimun diam-diam menyimpan jawaban.

Kasepuhan Adat Gelaralam—dulu bernama Ciptagelar—membuktikan bahwa kemandirian energi bukanlah sekadar utopia. Dari desa adat ini, kita belajar merangkul teknologi tanpa harus melepaskan akar tradisi.
Menjaga Denyut Nadi Turbin di Jantung Hutan
Pagi itu, 25 Mei 2025, kabut tipis masih menyelimuti Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Ana, seorang pria berpakaian pangsi hitam dengan udeng di kepala, baru saja menyampirkan kaneron—tas anyaman rotan khas Sunda—di pundaknya. Belum sempat ia melangkah ke sawah, telepon genggamnya berdering memecah keheningan.
Seseorang di ujung telepon mengeluhkan redupnya lampu rumah semalam.
“Iya, sae. Enggeus tak cek (Iya, baik. Sudah saya cek),” jawab Ana lugas.




Tinggalkan Balasan