Selain bertani, Ana memikul tanggung jawab besar sebagai anggota Kelompok Manintin. Ia mengurus Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) desa sejak 3 tahun lalu. Kelompok ini menamakan diri mereka dari burung pegunungan yang hidup berdampingan dengan aliran sungai.
Mengetahui ada masalah pada arus listrik dari amperemeter di rumahnya, Ana menunda rencananya ke ladang. Ia memacu motornya melintasi jalanan terjal berbatu dan berlumpur sisa hujan semalam. Suhu udara anjlok di bawah 20 derajat celcius, namun dingin tak menyurutkan langkahnya membersihkan bendungan sedalam tiga meter dari dedaunan dan ranting bambu. Bendungan ini memutar turbin crossflow yang mengaliri listrik ke ratusan rumah warga kasepuhan.
Menolak Bergantung, Memilih Mandiri
Ketahanan energi Gelaralam lahir dari keteguhan warganya. Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebenarnya pernah menawarkan perluasan jaringan ke wilayah kasepuhan. Namun, Kasepuhan Ciptagelar dan Sukamulya menolak tawaran tersebut dengan alasan ekonomi dan semangat kemandirian.
Perbandingan biaya menjadi faktor penentu yang sangat rasional bagi warga adat:

Bagi warga, turbin menghadirkan kebebasan ekonomi. “Kalau pakai PLN nggak bisa nunggak. Pakai turbin mah bisa nunggak, ada yang sudah setahun nggak diputus,” kelakar Ana mencairkan suasana.
Meskipun turbin terkadang rusak—memaksa warga kembali ke lampu canting atau menyewa generator mahal seharga Rp 900 ribu per bulan untuk membeli solar—mereka tidak pernah menyerah. Melalui sistem gotong royong, mereka mengumpulkan dana untuk memperbaiki kerusakan yang memakan biaya puluhan juta rupiah.
Warisan Cahaya Abah Anom dan Abah Ugi
Kisah benderangnya Gelaralam bermula dari mimpi panjang mendiang Encup Sucipta, atau akrab disapa Abah Anom. Pada 1988, pemuda 21 tahun itu merintis PLTMh pertama di Kampung Ciptarasa menggunakan kincir kayu sederhana yang sukses menerangi 55 rumah. Berkat keuletannya melobi pihak luar, pada 1997 kasepuhan berhasil membangun instalasi PLTMh permanen berkapasitas besar.




Tinggalkan Balasan