Nenek moyang Batak sudah tahu cara bertahan dari gempa — ratusan tahun sebelum insinyur menemukannya.
KOSONGSATU.ID — Ketika gempa M 5,8 mengguncang Tapanuli Utara pada Oktober 2022, lebih dari 1.300 unit rumah rusak dalam semalam. Bangunan-bangunan yang roboh mayoritas adalah rumah baru berbahan tembok yang baru berdiri beberapa tahun.
Sementara di Desa Pansur Napitu, Kecamatan Siatas Barita, rumah panggung kayu milik Misdi Manik — berumur 80-100 tahun — berdiri .
Tidak ada yang kebetulan di sini.
Di Atas Sesar yang Tidak Pernah Tidur
Sumatera Utara duduk tepat di atas Sesar Besar Sumatera, atau dikenal juga sebagai Sesar Semangko, patahan geser sepanjang 1.900 kilometer yang membentang dari Aceh hingga Lampung. Ini bukan sekadar garis di peta geologi. Tapi ini adalah mesin gempa yang telah aktif jauh sebelum ada catatan sejarah tertulis.
Nenek moyang Batak tinggal di atas mesin itu. Dan mereka membangun rumah yang menyesuaikan diri dengannya.
Rumah Bolon (Ruma Bolon dalam bahasa Batak Toba) berdiri di atas batu ojahan — fondasi berupa batu datar tempat tiang kayu bertumpu, tanpa pernah tertanam ke dalam tanah. Tidak ada paku. Tidak ada sekrup. Seluruh sambungan antar elemen menggunakan sistem pasak kayu keras yang diselipkan, dan ikatan tali dari serat ijuk (Arenga pinnata) yang tahan air dan tidak lapuk.
Yang Disebut “Primitif” oleh Para Insinyur, Kini Mereka Hitung Ulang
Pada Desember 2025, empat peneliti dari Universitas Brawijaya — A. Citraningrum, A.M. Nugroho, T.R. Siagian, dan W. Iyati — memodelkan Rumah Bolon dalam perangkat lunak simulasi struktur SAP2000. Hasilnya membungkam banyak asumsi.
Nilai defleksi struktur akibat gabungan beban hidup, beban mati, dan beban gempa tercatat hanya 0,003 sentimeter. Batas maksimum yang diizinkan Standar Nasional Indonesia (SNI 03-1729-2002) adalah 0,6 sentimeter. Artinya, Rumah Bolon hanya bergeser 0,5 persen dari batas keamanan yang ditetapkan regulasi modern.
Para peneliti menyimpulkan bahwa sistem interlocking — sambungan yang saling mengunci tanpa kekakuan penuh — justru menjadi kunci efektivitasnya. Dalam ilmu teknik seismik, prinsip ini dikenal sebagai flexible joint system atau semi-rigid connection: struktur yang tidak melawan gaya gempa secara frontal, melainkan menyerap dan mendistribusikannya melalui deformasi elastis.

Batu Sebagai Peredam, Bukan Sekadar Fondasi
Keputusan untuk tidak menanam tiang ke dalam tanah bukan kelalaian teknis. Itu adalah pilihan cerdas. Dalam rekayasa struktural modern, konsep serupa disebut base isolation: memisahkan massa bangunan dari getaran tanah agar energi gempa tidak diteruskan langsung ke atas.
Batu ojahan melakukan persis itu. Ketika tanah bergetar, tiang bisa sedikit bergeser di atas batu — melepaskan sebagian energi sebelum diteruskan ke struktur. Atap ijuk yang berat di bagian atas bukan ornamen; beban massanya menstabilkan frekuensi alami bangunan agar tidak beresonansi dengan getaran seismik.
Kearifan yang Ditinggalkan Justru Saat Paling Dibutuhkan
Yang ironis, di Tapanuli Utara, di atas jalur sesar paling aktif di Indonesia, warga justru beralih ke rumah beton. Seorang warga di kawasan Pahae mengaku kepada Kompas.id bahwa hampir separuh tetangganya sudah mengganti rumah kayu mereka dengan konstruksi beton dalam beberapa tahun terakhir.
Gempa Oktober 2022 menjadi tagihan yang datang lebih cepat dari perkiraan.
Penelitian Citraningrum dan kawan-kawan menutup laporannya dengan pernyataan yang seharusnya didengar para perencana kota: tektonika arsitektur tradisional Batak Toba, tulis mereka, belum banyak dikaji secara holistik sebagai sistem ketahanan struktural — padahal prinsipnya sudah terbukti signifikan selama berabad-abad.
Nenek moyang tidak membutuhkan SAP2000 untuk tahu itu. Kita butuh SAP2000 untuk akhirnya mempercayai mereka.
Apakah kebijakan tata ruang kita sudah mempertimbangkan arsitektur vernakular sebagai referensi standar bangunan tahan gempa? Sampaikan pandanganmu di kolom komentar.***
Jurnal Akademik / Penelitian:
- Citraningrum, A., Nugroho, A.M., Siagian, T.R., & Iyati, W. (2025). “Tektonika Tahan Gempa Arsitektur Tradisional Indonesia: Studi Kasus Rumah Bolon Batak Toba.” Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia, 14(4), Desember 2025 (ISSN: 2301-9247). ResearchGate
- Studi numerik Rumah Bolon: IOP Conference Series: Materials Science and Engineering, Vol. 725, 2020 — “Study of Bolon House Structure as a Traditional Batak Toba House on Earthquake Force.”
- “Numerical Analysis of Bolon as Traditional Batak Toba House During An Earthquake: A Study in Village of Siallagan and Silalahi North Sumatera,” IOP Conf. Series: MSE, 2020.
- “Arsitektur Vernakular Tanggap Bencana Indonesia,” Jurnal Arsir, Universitas Muhammadiyah Palembang, 2019. (Wazir et al.)
- “Kearifan Lokal dalam Pendidikan Mitigasi Bencana: Rumah Panggung di Berbagai Daerah di Indonesia,” ResearchGate, November 2024.





Tinggalkan Balasan