Snouck Hurgronje merancang kita untuk lupa. Sejarah palsu diajarkan agar kita minder. Tapi, Tan Malaka sudah meninggalkan petanya: jadilah murid Timur yang cerdas, dan rebut kembali apa yang dirampas.


KOSONGSATU.ID — Bangsa Indonesia pernah menjadi pusat peradaban dunia. Itu bukan klaim kosong. Itu fakta yang terpahat di batu, tercatat dalam prasasti, dan dibuktikan oleh arkeologi. 

Sriwijaya menguasai jalur perdagangan Asia selama berabad-abad. Majapahit membentang dari Semenanjung Malaya hingga Papua. Kapal-kapal Nusantara menjangkau Madagaskar dan Pasifik sebelum peta dunia Barat bahkan menggambarkan wilayah itu.

Tapi tanyakan kepada anak-anak muda Indonesia hari ini: seberapa besar rasa bangga itu sesungguhnya terasa?

Seberapa sering kita kagum pada Barat, lalu tanpa sadar mengecilkan diri sendiri?

Jawabannya bukan soal karakter atau mental. Jawabannya adalah soal ingatan yang pernah dirampas — dan yang kini harus kita rebut kembali.

Langkah Pertama Melikuidasi Bangsa: Hapus Ingatannya

Milan Kundera, penulis Ceko yang pernah menjadi saksi langsung bagaimana rezim kekuasaan menghapus identitas bangsanya, merumuskan sesuatu yang terasa seperti cermin bagi Indonesia.

Dalam novelnya The Book of Laughter and Forgetting (1979), ia menulis: “Kau mulai melikuidasi suatu bangsa dengan merampas ingatannya. Kau hancurkan buku-bukunya, kebudayaannya, sejarahnya. Dan kemudian orang lain menulis buku-buku lain untuknya, memberi kebudayaan lain padanya, menciptakan sejarah lain untuknya. Lalu bangsa itu perlahan-lahan melupakan siapa dirinya dan siapa dirinya dulu.”

Bagi Kundera, ini bukan kiasan. Ini adalah panduan teknis tentang cara menghancurkan bangsa tanpa harus membunuh semua orangnya.

Dan siapa pun yang membaca sejarah penjajahan di Indonesia akan mengenali pola itu dengan sangat jelas.

Snouck Hurgronje: Penjajah yang Bersenjatakan Pengetahuan

Tidak semua penjajah datang dengan senapan. Sebagian datang dengan buku catatan, riset lapangan, dan gelar akademis dari Eropa.

Christiaan Snouck Hurgronje (1857–1936) adalah contoh paling telak dari itu.

Alumnus Universitas Leiden ini punya keyakinan yang kuat: peradaban Barat sekuler adalah puncak dari segala peradaban. Segala yang lain harus tunduk. Cara menundukkannya bukan hanya lewat kekerasan, melainkan lewat pendidikan — membentuk anak-anak pribumi agar cara berpikirnya mengarah sepenuhnya ke Barat.

Ia menyebut proyek itu bukan penjajahan, melainkan “pemberadaban”.

Kata yang berbeda. Tujuan yang sama: mencabut akar.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by kosongsatu.id (@kosongsatuid)

Dengan menyamar sebagai Muslim beridentitas Abdul Ghaffar, Snouck masuk ke jantung komunitas Islam di Mekah dan Nusantara. Ia mempelajari Islam dari dalam — bukan untuk mengimaninya, melainkan untuk memahami dari mana kekuatan perlawanan rakyat bersumber, lalu menyusun cara melumpuhkannya.

Strateginya terhadap Aceh sudah tercatat dalam sejarah: biarkan ibadah berjalan, tekan ulama penggerak perlawanan, dekati bangsawan uleebalang, belah masyarakat dari dalam. Perlawanan Aceh yang selama puluhan tahun tak bisa dipatahkan akhirnya melemah — bukan karena kalah di medan perang, tetapi karena kehilangan kohesi dari dalam.

Tapi, yang jarang disadari adalah, Snouck tidak hanya melemahkan perlawanan fisik. Ia merancang kerusakan yang jauh lebih dalam — kerusakan pada cara sebuah bangsa memandang dirinya sendiri.

Pengetahuan akademis tentang Islam, budaya lokal, dan struktur sosial Nusantara tidak dikumpulkan untuk dihormati — melainkan untuk dieksploitasi demi kepentingan penjajah. Dalam kajian pascapenjajahan atau poskolonial, ini disebut “pengetahuan sebagai kekuasaan”: ilmu yang tampak netral, sesungguhnya bekerja mengabdi pada agenda penundukan.

Visi akhir Snouck tidak tanggung-tanggung: Indonesia masa depan sebagai bagian dari “Belanda Raya” — bangsa yang tidak lagi ingat bahwa ia pernah besar dan berdiri sendiri.

Sejarah Palsu yang Masih Kamu Percayai

Proyek penghapusan ingatan itu tidak berhenti pada kebijakan pendidikan atau strategi militer. Ia menyusup ke dalam buku-buku sejarah — dan sebagian masih diajarkan hingga hari ini.

Ken Arok. Dalam pelajaran sejarah nasional, Ken Arok dilukiskan sebagai anak haram, berandalan, pencuri, dan pembunuh yang kemudian menjadi raja Singasari. Kisah ini bersumber dari Serat Pararaton — naskah yang diterbitkan dan dipopulerkan justru pada era penjajahan Belanda.

Menurut almarhum K.H. Agus Sunyoto, sejarawan penulis Atlas Wali Songo, tidak ada satu pun prasasti atau naskah kuno yang menyebut nama Ken Arok. Nama itu baru muncul di zaman Belanda, saat Perang Diponegoro tengah membakar Jawa. Tepat saat rakyat membutuhkan kebanggaan historis untuk melawan penjajah, leluhur Majapahit justru digambarkan sebagai penjahat.

Perang Bubat. Kisah tentang pembantaian rombongan Kerajaan Sunda oleh Majapahit ini selama berabad-abad menjadi luka yang memisahkan orang Jawa dan Sunda. Muncul mitos bahwa perempuan Sunda tak boleh menikahi laki-laki Jawa. Dua suku besar diracuni oleh cerita yang — menurut Agus Sunyoto — tidak ditemukan dalam satu pun prasasti Majapahit, Nagarakretagama, maupun babad kuno mana pun. 

Satu-satunya sumbernya adalah Kidung Sunda, naskah yang baru muncul sekitar tahun 1860 — lebih dari lima abad setelah Majapahit berdiri, tepat ketika penjajah sedang mengukuhkan kekuasaan.

Dua cerita itu bekerja dalam logika yang sama: satu merendahkan leluhur Jawa, satu lagi memecah Jawa dengan Sunda. Buat bangsa ini tidak percaya pada kebesarannya sendiri, dan pastikan mereka sibuk saling curiga satu sama lain.

Ini bukan kebetulan sejarah. Ini adalah desain.

Pikiran yang Terjajah Lebih Lama dari Tanahnya

Para pemikir pascapenjajahan — Edward Said, Frantz Fanon, Homi Bhabha — sudah lama menjelaskan mekanisme ini.

Penjajahan tidak hanya menguasai tanah. Ia juga membentuk cara orang yang terjajah memandang dirinya sendiri. Ketika rakyat terjajah mulai percaya bahwa mereka memang terbelakang, primitif, dan butuh diselamatkan — maka kekuasaan penjajah tidak lagi perlu dipertahankan dengan senapan. Ia dipertahankan oleh korbannya sendiri.