Hampir seabad lalu, Tan Malaka menawarkan resep sederhana tapi tajam: kuasai ilmu modern dari Barat, namun tetaplah jadi bangsa Timur yang cerdas. ‘Doktrin’ itu kembali relevan di era globalisasi.
Opini
DI TENGAH hiruk-pikuk zaman digital, bangsa Indonesia kerap terombang-ambing antara euforia modernitas Barat dan romantisme identitas Timur. Pertanyaan klasik pun mencuat kembali: bagaimana cara kita menyerap kemajuan dunia tanpa kehilangan jati diri?
Pertanyaan itu sebenarnya sudah dijawab hampir seabad silam oleh seorang tokoh revolusioner yang kerap disisihkan dari panggung resmi sejarah: Tan Malaka.
Dalam karyanya Aksi Massa yang terbit pada 1926, Tan Malaka menulis dengan nada tegas bahwa bangsa Indonesia memang harus belajar dari Barat. Namun ia memberi peringatan keras, “belajar dari orang Barat… tapi jangan jadi peniru orang Barat, melainkan seorang murid dari Timur yang cerdas,” sebagaimana termuat dalam Bab XII, Khayalan Seorang Revolusioner.
Kalimat itu lahir bukan dari kejumawaan, melainkan dari kesadaran bahwa kolonialisme Belanda telah mengunci bangsa ini dalam ketertinggalan. Menolak belajar sama saja dengan menyerah pada kebodohan; namun meniru habis-habisan berarti kehilangan akar sebagai bangsa Timur.
Peringatan Tan Malaka tidak berhenti di sana. Dalam buku yang lebih monumental, Madilog (1943), ia kembali menekankan bahwa filsafat modern, terutama filsafat materialisme, dialektika, dan logika—“filsafat proletar”—memang ada di Barat.
Tetapi, kata Tan, menyalin buku-buku Barat saja tidak cukup. Pikiran itu harus dijembatani, dicerna, lalu disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang kala itu masih dikepung feodalisme, mistisisme, dan kolonialisme (lihat Pendahuluan, Marxists Internet Archive). Dengan kata lain, pengetahuan asing baru akan berfungsi jika diolah dalam tubuh kebudayaan kita sendiri.
Sejarawan kontemporer menyebut kutipan dari Aksi Massa sebagai doktrin yang merangkum pandangan Tan: “Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat; jadilah murid dari Timur yang cerdas.”
Frasa ini beredar di banyak laman populer seperti Goodreads dan Gramedia, meski pada dasarnya merupakan parafrasa komunitas atas gagasan yang secara eksplisit tertuang dalam Aksi Massa. Tetapi substansinya jelas: Tan Malaka ingin membentuk generasi Indonesia yang modern, logis, dan maju, tanpa tercerabut dari identitas Nusantara.
Kini, hampir seratus tahun kemudian, doktrin itu masih terasa relevan. Kita berhadapan dengan globalisasi teknologi, arus informasi yang deras, dan kecenderungan menelan mentah-mentah gaya hidup Barat.
Di sisi lain, kita juga mudah terjebak dalam glorifikasi masa lalu, merasa cukup dengan simbol-simbol kebudayaan Timur tanpa menajamkan akal dan ilmu. Jalan tengah yang ditawarkan Tan Malaka—berani belajar keluar, namun tetap cerdas menjaga akar—adalah obat mujarab untuk dilema bangsa ini.
Bangsa yang tidak mau belajar akan tertinggal. Tetapi bangsa yang kehilangan akar akan hancur. Tan Malaka, melalui Aksi Massa (1926) dan Madilog (1943), sudah menuntun kita pada keseimbangan itu.
Pertanyaannya: beranikah kita, generasi kini, sungguh-sungguh menghidupi doktrin itu, bukan sekadar mengutipnya?***




Tinggalkan Balasan