Tak ada prasasti atau naskah asli yang mencatat Perang Bubat. Sejarawan Agus Sunyoto menyebutnya sebagai kisah rekaan Belanda untuk memecah Jawa dan Sunda demi kepentingan penjajahan.
KOSONGSATU.ID — Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia hidup dengan satu keyakinan: bahwa di masa lampau terjadi tragedi besar antara Jawa dan Sunda, yang dikenal dengan nama Perang Bubat. Dalam kisah itu, Mahapatih Gajah Mada dituding membantai Raja dan Putri Sunda saat hendak menikah dengan Hayam Wuruk.
Kisah ini begitu masyhur. Diajar di sekolah. Dibuat film. Dijadikan dasar psikologis atas renggangnya relasi Jawa dan Sunda hingga hari ini.
Namun sejarawan Agus Sunyoto menyampaikan sesuatu yang mencengangkan: Perang Bubat tidak pernah terjadi. Itu hanyalah fiksi buatan kolonial Belanda.
Menurut Agus, tak ada satupun prasasti Majapahit yang mencatat peristiwa pembantaian tersebut. Tak ada pula dalam naskah-naskah kuno Jawa, seperti Pararaton, Nagarakretagama, atau babad-babad asli yang ditulis sebelum abad ke-19.
Begitu juga dari sisi Sunda, tak ada bukti otentik yang menyebutkan tragedi Bubat pernah terjadi. Semuanya senyap.
Satu-satunya sumber yang menyebutkan cerita ini adalah Kidung Sunda—naskah yang baru muncul pada masa kolonial, sekitar tahun 1860.
Dari sinilah Agus Sunyoto mencium kejanggalan. Jika benar peristiwa Bubat terjadi, mengapa ia absen dari seluruh naskah sezaman? Mengapa hanya muncul ratusan tahun setelahnya, tepat ketika Belanda tengah giat-giatnya mengukuhkan kekuasaan dan membelah kekuatan masyarakat pribumi?
Menurut Agus, Kidung Sunda adalah produk kolonial yang disusun sebagai alat pecah-belah. Setelah Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin Pangeran Diponegoro—seorang pemersatu kekuatan Islam, pesantren, dan kerajaan—Belanda sadar bahwa kunci perlawanan terletak pada kesatuan etnis dan budaya. Maka strategi adu domba pun dijalankan.
Cerita Bubat digulirkan untuk memantik luka sejarah yang tak pernah ada. Sentimen antar suku diperkuat lewat kurikulum dan buku sejarah. Orang Sunda diajarkan untuk mewaspadai orang Jawa. Orang Jawa dibentuk untuk merasa bersalah, namun tak paham kenapa.
Agus menambahkan, setelah Kidung Sunda, kolonial juga menerbitkan Serat Pararaton pada tahun 1920-an. Narasinya memperkuat delegitimasi terhadap Majapahit, dengan menggambarkan Ken Arok—pendiri Singhasari yang dianggap leluhur Majapahit—sebagai anak haram dan penjahat. Menurut Agus, serat ini tak dikenal di kalangan pujangga Keraton Mataram maupun Pakualaman. Nama dan kisahnya pun tak tercatat dalam prasasti-prasasti autentik.
Dalam logika penjajahan, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Ia adalah alat kuasa. Dengan mengubah narasi sejarah, kolonial Belanda berhasil membentuk persepsi baru di tengah masyarakat. Mereka memposisikan diri sebagai penengah atas “permusuhan” antar bangsa yang mereka ciptakan sendiri.
Dan hasilnya masih terasa hingga kini. Di wilayah-wilayah Jawa Barat, nama jalan seperti Gajah Mada atau Hayam Wuruk nyaris tak ditemukan. Nama-nama itu dianggap simbol penindas, padahal citra itu dibangun di atas fiksi.
“Ini politik pengetahuan yang sangat keji,” kata Agus Sunyoto. “Kita harus hati-hati menggunakan sumber sejarah buatan kolonial sebagai rujukan utama. Karena mereka punya agenda—bukan mencatat sejarah, tapi membentuk ingatan.”
Kini, tanggung jawab berpindah ke tangan kita. Sejarah yang keliru harus diluruskan. Ingatan yang retak harus disembuhkan. Bukan untuk membuka luka lama, tapi untuk menyadari: kadang, musuh sejati bukan yang kita lawan, melainkan yang membisikkan siapa yang harus kita benci.
__________
Sebagai pembanding logis-rasional-empiris, berikut ini daftar sumber utama dan sekunder yang menjadi dasar narasi tentang Perang Bubat—selain dari sejarawan Agus Sunyoto—beserta catatan kritis terhadap masing-masing:




Tinggalkan Balasan