Ken Arok. Dalam pelajaran sejarah nasional, Ken Arok dilukiskan sebagai anak haram, berandalan, pencuri, dan pembunuh yang kemudian menjadi raja Singasari. Kisah ini bersumber dari Serat Pararaton — naskah yang diterbitkan dan dipopulerkan justru pada era penjajahan Belanda.
Menurut almarhum K.H. Agus Sunyoto, sejarawan penulis Atlas Wali Songo, tidak ada satu pun prasasti atau naskah kuno yang menyebut nama Ken Arok. Nama itu baru muncul di zaman Belanda, saat Perang Diponegoro tengah membakar Jawa. Tepat saat rakyat membutuhkan kebanggaan historis untuk melawan penjajah, leluhur Majapahit justru digambarkan sebagai penjahat.
Perang Bubat. Kisah tentang pembantaian rombongan Kerajaan Sunda oleh Majapahit ini selama berabad-abad menjadi luka yang memisahkan orang Jawa dan Sunda. Muncul mitos bahwa perempuan Sunda tak boleh menikahi laki-laki Jawa. Dua suku besar diracuni oleh cerita yang — menurut Agus Sunyoto — tidak ditemukan dalam satu pun prasasti Majapahit, Nagarakretagama, maupun babad kuno mana pun.
Satu-satunya sumbernya adalah Kidung Sunda, naskah yang baru muncul sekitar tahun 1860 — lebih dari lima abad setelah Majapahit berdiri, tepat ketika penjajah sedang mengukuhkan kekuasaan.
Dua cerita itu bekerja dalam logika yang sama: satu merendahkan leluhur Jawa, satu lagi memecah Jawa dengan Sunda. Buat bangsa ini tidak percaya pada kebesarannya sendiri, dan pastikan mereka sibuk saling curiga satu sama lain.
Ini bukan kebetulan sejarah. Ini adalah desain.

Pikiran yang Terjajah Lebih Lama dari Tanahnya
Para pemikir pascapenjajahan — Edward Said, Frantz Fanon, Homi Bhabha — sudah lama menjelaskan mekanisme ini.
Penjajahan tidak hanya menguasai tanah. Ia juga membentuk cara orang yang terjajah memandang dirinya sendiri. Ketika rakyat terjajah mulai percaya bahwa mereka memang terbelakang, primitif, dan butuh diselamatkan — maka kekuasaan penjajah tidak lagi perlu dipertahankan dengan senapan. Ia dipertahankan oleh korbannya sendiri.
Frantz Fanon menyebut ini sebagai “penjajahan pikiran” — dan inilah yang paling sulit disembuhkan, bahkan setelah penjajahan fisik berakhir.





Tinggalkan Balasan