Pertama, Indonesia dapat belajar dari praktik negara lain mengenai perlindungan warisan budaya yang melibatkan komunitas secara nyata. Tidak semua negara berhasil, tetapi forum internasional dapat menjadi ruang untuk melihat model pembiayaan, perlindungan pengetahuan tradisional, pendidikan budaya, dan pengelolaan wisata berbasis masyarakat.
Kedua, Indonesia dapat mendorong agenda yang sesuai dengan kebutuhannya sendiri: pelestarian yang tidak memisahkan budaya dari kesejahteraan penjaganya.
Indonesia memiliki kekuatan untuk membawa sudut pandang tersebut karena keberagaman budayanya bukan hanya aset diplomasi. Ia juga merupakan kenyataan ekonomi sehari-hari bagi jutaan keluarga.
Kursi di UNESCO akan lebih berarti apabila pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan komunitas budaya sama-sama menjawab satu pertanyaan sederhana: ketika sebuah tradisi menjadi terkenal, siapa yang paling diuntungkan?
Bila jawabannya masih lebih banyak perusahaan, penyelenggara acara, atau pihak di luar komunitas, maka pelestarian belum benar-benar selesai.
Ukuran Keberhasilan Bukan Banyaknya Pengakuan
Indonesia sudah memiliki sejumlah elemen budaya yang tercatat dalam daftar UNESCO, dari batik, angklung, pencak silat, gamelan, hingga kebaya dan kolintang. Pengakuan itu penting sebagai bentuk penghormatan dunia terhadap kekayaan budaya Indonesia.
Namun, pengakuan internasional bukan garis akhir.
Ukuran keberhasilan yang lebih nyata adalah apakah penenun dapat hidup layak dari tenunannya; apakah sanggar desa mampu membayar pelatih dan merawat alat kesenian; apakah anak muda melihat pekerjaan budaya sebagai masa depan, bukan pekerjaan yang ditinggalkan; serta apakah komunitas memiliki suara ketika tradisi mereka dipromosikan atau dikomersialkan.
Kembalinya Indonesia ke Komite UNESCO seharusnya menjadi momentum untuk mengubah cara pandang.
Budaya bukan sekadar bahan festival, bukan hanya latar promosi pariwisata, dan bukan sekadar daftar prestasi di forum internasional.
Budaya adalah kerja. Budaya adalah pengetahuan. Budaya adalah jaringan ekonomi.





Tinggalkan Balasan