Dari Festival ke Rantai Nilai

Selama ini, kebijakan budaya kerap berhenti pada dua pendekatan: festival dan pencatatan.

Festival penting karena dapat memperkenalkan tradisi kepada publik. Pencatatan juga penting untuk memastikan warisan tidak hilang begitu saja. Namun, keduanya belum cukup apabila setelah panggung dibongkar dan tamu pulang, komunitas kembali menghadapi persoalan lama: modal kecil, pasar sempit, regenerasi yang terputus, dan pendapatan yang tidak pasti.

Indonesia perlu bergerak dari model “memamerkan budaya” menuju model “membangun rantai nilai budaya”.

Artinya, pelestarian mesti dihubungkan dengan beberapa hal.

Pertama, kepastian pendapatan bagi pelaku budaya. Perajin dan seniman tidak cukup hanya diberi ruang tampil; mereka membutuhkan harga yang layak, kontrak yang adil, akses pembiayaan, serta saluran distribusi yang tidak memotong nilai terlalu banyak di tengah jalan.

Kedua, regenerasi keterampilan. Banyak tradisi menghadapi risiko putus karena generasi muda tidak melihat masa depan ekonomi di dalamnya. Anak muda akan sulit tertarik meneruskan tenun, musik tradisi, seni ukir, atau pengetahuan pangan lokal apabila pekerjaan tersebut identik dengan pendapatan rendah dan pasar yang tidak pasti.

Ketiga, perlindungan terhadap eksploitasi. Digitalisasi membuat budaya lokal lebih mudah dikenal, tetapi juga lebih mudah disalin, dipakai tanpa izin, atau dikomersialkan tanpa manfaat kembali kepada komunitas asal.

Keempat, data yang lebih baik. BPS sendiri menyebut Sensus Ekonomi 2026 dapat memberi gambaran lebih rinci mengenai pelaku usaha kreatif, lokasi, dan skala usahanya. Data semacam ini penting agar kebijakan budaya tidak dibuat berdasarkan asumsi, melainkan berdasarkan peta nyata tentang siapa yang bekerja, di mana mereka berada, dan hambatan apa yang mereka hadapi. 

Apa yang Bisa Dibawa Indonesia ke UNESCO?

Keanggotaan Indonesia di komite UNESCO tidak akan langsung menyelesaikan persoalan pendapatan penenun atau keberlanjutan sanggar seni di daerah. Namun, posisi itu memberi Indonesia dua peluang.