Gus Dur membuktikan tasawuf bukan pelarian dari dunia. Sejak 1974, ia memetakan gerakan sufi sebagai benteng moral dan jangkar nasionalisme—tesis yang menemukan wujud nyatanya di Shiddiqiyyah, Jombang.
KOSONGSATU.ID – Di penghujung musim panas 1974, seorang sarjana muda dari Jombang menyerahkan sebuah laporan penelitian kepada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Judulnya sederhana: Laporan Penelitian Gerakan Tasawuf di Indonesia. Namun isinya bukan sekadar catatan akademis—ia adalah pembongkaran senyap terhadap sebuah prasangka lama yang sudah terlanjur mengeras.
Prasangka itu berbunyi: kaum sufi adalah pelarian. Mereka yang tak sanggup menanggung bising dunia lalu memilih diam di sudut surau, berdzikir, dan menunggu mati.
KH Abdurrahman Wahid—yang kelak dunia mengenalnya sebagai Gus Dur—menolak tesis itu mentah-mentah.
Di lapangan, ia menemukan sesuatu yang berbeda. Gerakan tasawuf, tulisnya, bukan tempat persembunyian dari realitas. Ia adalah benteng moral, stabilisator sosial, dan—inilah yang paling mengejutkan—jangkar nasionalisme. Bukan ungkapan retoris, melainkan fakta sosiologis yang bisa diamati, diukur, dan dipetakan.
Dimensi Baru: Ketika Eks-Masyumi Masuk Surau
Empat belas tahun setelah laporan itu, Gus Dur kembali mengangkat tema serupa. Dalam esai bertajuk “Orang Masyumi Bertasawuf” yang dimuat Harian Pelita pada 14 September 1988, ia menyoroti satu gejala unik yang lahir dari luka politik Orde Lama.
Ketika Bung Karno membubarkan Partai Masyumi pada awal 1960-an, sebagian warganya mengalami semacam kehilangan ganda: kehilangan panggung politik sekaligus kehilangan ruang afiliasi keislaman. Mereka tidak bisa begitu saja bergabung ke tarikat-tarikat besar yang sudah terlanjur identik dengan NU atau Perti. Jarak kultural itu terlalu dalam, terlalu lama tertanam.
Maka mereka berpaling ke arah lain—ke guru-guru rohani lokal, ke gerakan-gerakan tasawuf yang belum mapan secara kelembagaan. Gus Dur mencatat beberapa nama: Shiddiqiyyah di Jombang, Shalawat Wahidiyah di Kediri, PSM Pesantren Sabilil Muttaqin, hingga tarikat asuhan Abah Anom di Suryalaya, Tasikmalaya.




Tinggalkan Balasan