Konvensi UNESCO 2003 menempatkan masyarakat, kelompok, dan individu sebagai pihak yang harus dilibatkan seluas mungkin dalam upaya pelindungan warisan budaya takbenda. Artinya, pelestarian tidak boleh berhenti pada pencatatan pemerintah atau promosi wisata; komunitas pemilik tradisi harus menjadi bagian dari pengambilan keputusan.
Di titik inilah posisi Indonesia di Komite UNESCO menjadi penting.
Komite itu bukan lembaga yang otomatis mendatangkan dana atau menjadikan semua tradisi Indonesia terkenal. Perannya lebih strategis: membahas kebijakan, mengevaluasi nominasi, mengarahkan praktik perlindungan warisan budaya takbenda, serta mendorong kerja sama antarnegara.
Kementerian Luar Negeri menyatakan Indonesia akan menggunakan masa keanggotaan 2026–2030 untuk mengawal kebijakan global mengenai pelindungan kebudayaan dan memperkuat kerja sama internasional.
Mandat tersebut memberi Indonesia ruang untuk menyuarakan kepentingan negara berkembang dan komunitas budaya yang selama ini sering berada pada posisi paling lemah dalam rantai nilai ekonomi.
Budaya Sudah Menjadi Ruang Kerja yang Besar
Membicarakan budaya sebagai kekuatan ekonomi bukan berarti mengubah seluruh tradisi menjadi barang dagangan. Namun, menolak hubungan antara budaya dan ekonomi juga menutup mata terhadap kenyataan bahwa jutaan orang menggantungkan hidup pada karya, keterampilan, dan pengetahuan kreatif.
Badan Pusat Statistik mencatat jumlah tenaga kerja ekonomi kreatif pada 2025 mencapai 27,40 juta orang, atau 18,70 persen dari total tenaga kerja nasional. Angka itu meningkat dari 26,48 juta pekerja pada 2024. Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur menjadi tiga provinsi dengan jumlah pekerja ekonomi kreatif terbesar, menyumbang 57,81 persen dari total pekerja ekonomi kreatif nasional.
Angka tersebut memang tidak seluruhnya berasal dari tradisi budaya. Di dalamnya terdapat pelaku kuliner, fesyen, desain, gim, film, musik, animasi, dan konten digital.
Tetapi justru di situlah peluangnya.
Kain tenun tidak hanya hidup sebagai benda adat. Ia dapat menghidupi pemintal benang, penenun, pewarna alami, pengrajin alat tenun, perancang busana, fotografer produk, penjual daring, hingga pengelola wisata desa.




Tinggalkan Balasan