Tragedi kematian almarhum Yurizal Tri Chaerawan dan riuh rendah perundungan digital di media sosial menjadi cermin jernih untuk membedah krisis empati publik.

KOSONGSATU.ID — Kasus tragis almarhum Yurizal Tri Chaerawan dan riuh rendah sidang dadakan di media sosial ini menjadi cermin jernih bagi kita semua di era digital hari ini. Fenomena yang memprihatinkan ini bisa kita bedah secara mendalam menggunakan kacamata Filsafat Zen.

Dalam tradisi Zen, praktik Za-Zen atau duduk hening dan bernapas panjang diajarkan bukan sekadar sebagai olah fisik, melainkan latihan menahan diri dari reaksi emosional yang impulsif. Pada oknum tenaga kesehatan, ketika melihat keluhan pasien di media sosial Threads, batin yang tidak hening secara refleks mengeluarkan komentar sinis yang melukai. Mereka gagal melakukan introspeksi dan tidak menyadari bahwa di balik layar ada manusia yang sedang menderita.

Di sisi lain, ketika berita duka menyeruak, warganet melompati proses klarifikasi dan investigasi, lalu langsung meluapkan amarah massal lewat aksi pengungkapan identitas pribadi dan perundungan. Kedua belah pihak sama-sama kehilangan jeda bernapas yang sadar. Seandainya sebelum mengetik komentar kita membiasakan menarik napas dalam-dalam dan bertanya pada batin sendiri, panggung penderitaan digital ini dapat dihindari.

Zen juga mengajarkan Hishiryo, sebuah kesadaran bahwa hidup dan realitas itu pada dasarnya sederhana, namun pikiran manusialah yang sering merumitkannya dengan membuat sekat dan kategori buatan. Di ruang digital, warganet sangat gampang terjebak dikotomi kaku antara kubu kubu tenaga kesehatan dan kubu keadilan warganet.

Kita mereduksi manusia yang kompleks menjadi sekadar target amarah atau kawan seperjuangan. Padahal, label buatan ini hanya memicu permusuhan dan menghilangkan empati alami manusia. Zen mengajak kita kembali melihat realitas sebagaimana adanya, yakni melihat manusia sebagai manusia, bukan sekadar label di layar gawai.

Bahaya Keledai Pengangkut Buku dan Hilangnya Kehadiran Utuh

Di era hari ini, hampir semua orang berpendidikan dan fasih berteori tentang etika, kemanusiaan, atau kode etik profesi. Namun, Zen mengingatkan bahaya menjadi keledai pengangkut buku, yakni seseorang yang sarat akan pengetahuan norma dan etika, tetapi miskin dalam tindakan nyata.