Presiden pertama Republik Indonesia menempuh laku spiritual dan fisik yang menguras air mata demi menyusun naskah pidato kenegaraan setiap bulan Agustus.
KOSONGSATU.ID – Putra Presiden ke-1 Republik Indonesia Soekarno, Guntur Soekarnoputra, menceritakan proses panjang ayahnya menyusun naskah pidato 17 Agustus. Soekarno bisa menghabiskan waktu seharian untuk mengumpulkan beragam referensi.
“Tok!! Bawa kemari Deklarasi Kemerdekaan dari Thomas Jefferson,” kata Soekarno. Permintaan ini dicatat Guntur dalam memoar Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku terbitan 1977.
Kesibukan menyusun amanat membuat proklamator kemerdekaan ini sering melupakan waktu makan. Ia memilih bekerja tanpa henti bersama tim khususnya di istana.
“Bapak sudah makan belum?” tanya Guntur. “Sebentar lagi. Jangan makan dulu. Bantu dulu Bapak,” pinta Soekarno menanggapi pertanyaan putranya tersebut.
Menatap Bintang dan Menangis
Soekarno memadukan langkah rasional dan laku spiritual dalam mencari inspirasi. Ia selalu turun menemui rakyat untuk memetakan kondisi nyata yang sedang dialami masyarakat bawah.
Wartawan Radio Republik Indonesia, Darmosugondo, membagikan kesaksiannya dalam harian Kompas edisi 11 Agustus 1965. Ia menyebut Sang Presiden kerap mencari bintang di langit malam.
Pada momen sunyi tersebut, Soekarno memanjatkan doa memohon petunjuk kepada Tuhan. Ia kemudian merangkai kata demi kata menggunakan tulisan tangan, bukan mesin tik.
Perasaan cinta kepada Tanah Air membuat batin Soekarno dipenuhi gejolak emosi. Naskah yang sedang ia tulis kerap basah dan harus diganti berulang kali karena tetesan air mata.
“Beberapa kali saya harus ganti kertas, oleh karena air mataku kadang-kadang tak dapat ditahan lagi,” kata Soekarno saat menyampaikan pidato peringatan kemerdekaan pada 1963.
Bentuk Tanggung Jawab Nyata
Sebelumnya, ajudan pribadi presiden, Bambang Widjanarko, menyaksikan atasannya mengurung diri berjam-jam. Soekarno berkonsentrasi penuh menuangkan gagasan ke dalam coretan pena.
Catatan dalam buku Sewindu Dekat Bung Karno (1988) ini menegaskan keseriusan sang orator. Bagi Soekarno, pidato adalah bentuk mutlak pertanggungjawaban politik seorang presiden.





Tinggalkan Balasan