Dari pesantren di Cianjur Selatan, Syekh Musa bukan hanya mengibarkan Merah Putih pertama di hadapan Sukarno, tetapi juga memberi suaka ketika sang presiden diburu Belanda dan Sekutu di awal kemerdekaan.


KOSONGSATU.ID — Di balik kemerdekaan Indonesia, nama Syekh Musa nyaris tak disebut dalam buku sejarah sekolah. Padahal, ulama tasawuf dari Sukanegara, Cianjur Selatan, ini punya peran penting dalam perjalanan Sukarno menuju Proklamasi 17 Agustus 1945 — hingga melindungi sang presiden dari ancaman pembunuhan di awal kemerdekaan.

Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara dalam Api Sejarah Jilid 2 (2010) menempatkan Syekh Musa sebagai salah satu dari empat tokoh utama yang memberi dukungan strategis kepada Sukarno. Tiga nama lainnya: Drs. Sosrokartono, KH. Abdul Mukti, dan KH. Hasyim Asy’ari. Mereka memberi sinyal bahwa Jepang tak lagi akan mengganggu kemerdekaan Indonesia.

Warga Sukanegara mengenalnya sebagai Mama Ajengan Cikiruh atau KH. Ahmad Basyari. Jejak asal-usulnya dipercaya mengalir dari Jombang, sebagai putra Syekh Nawawi — keturunan Keraton Cirebon dan sisa pasukan Diponegoro — sekaligus bagian dari silsilah Kiai Hasan Besari Jetis, Ponorogo, yang juga leluhur H.O.S. Tjokroaminoto dan Ronggowarsito.

Pesantren, Tempat Tirakat dan Lahirnya Sang Saka Merah Putih

Syekh Musa mendirikan Pesantren Al-Basyariyah di kaki Bukit Cikiruh pada 1911 setelah belajar langsung dari KH. Hasyim Asy’ari di Jombang. Pesantren ini kelak menjadi ruang tirakat dan perumusan strategi kemerdekaan.

Salah satu murid awalnya, A.A. Wiranatakusuma — Bupati Cianjur, lalu Bandung — mengenalkan Sukarno kepada Syekh Musa pada akhir 1930-an. Dari pertemuan itu lahir ikatan yang membuat Sukarno kerap datang sendiri ke pesantren, kadang menginap hingga sepuluh hari.

Pada 1939, Syekh Musa memesan kain merah dan putih kepada Haji Harun Hasan, pengusaha kain Pekalongan. Tiga tahun kemudian, bendera itu berkibar pertama kali di pesantren, di hadapan Sukarno dan para santri. Selama pendudukan Jepang, bendera itu dikibarkan setiap Jumat di mimbar masjid pesantren.

Bendera berukuran 3,3 x 2,1 meter itu masih tersimpan di pesantren hingga kini, meski warnanya telah pudar dan kainnya mulai robek. Dari bendera inilah Sukarno mendapat ide membawa kain serupa ke Jakarta, yang kemudian dijahit Fatmawati menjadi Bendera Pusaka.

Pemberi Suaka di Tengah Teror

Awal Oktober 1945, Jakarta genting. Belanda dan Sekutu belum mengakui kemerdekaan, bahkan berusaha menangkap Sukarno. Menteri Dalam Negeri A.A. Wiranatakusuma memutuskan mengungsikan presiden dan keluarganya ke tempat aman: Pesantren Al-Basyariyah.

Bung Karno, Fatmawati, dan Guntur tiba selepas Magrib, diantar pengusaha Hasjim Ning. Mereka ditempatkan di rumah terpisah, dijaga polisi istimewa. Syekh Musa menolak uang bekal dari Hasjim, hanya menerimanya lewat istrinya.

Beberapa hari kemudian, pesan datang dari Mohammad Hatta agar Sukarno dibawa ke Istana Bogor. Dari sanalah Bung Karno melanjutkan konsolidasi dengan Hatta dan Sutan Sjahrir.