Di saat peringatan kemerdekaan dan Sumpah Pemuda kerap berhenti di seremoni, jamaah Thoriqoh Shiddiqiyyah memilih membangun rumah bagi warga miskin dengan uang sendiri. Sudah 25 kali program ini berjalan sejak 2002.

KOSONGSATU.ID – Selama bertahun-tahun, Ngasmani (42) tinggal di gubuk rapuh di Desa Tosari, Kecamatan Brangsong, Kendal, Jawa Tengah. Tahun ini, rumahnya dibongkar habis dan dibangun ulang dari fondasi oleh jamaah Thoriqoh Shiddiqiyyah, tanpa sepeser pun dana dari pihak luar jamaah, baik itu swasta maupun negara.

“Terima kasih banyak kepada Jamaah Thoriqoh Shiddiqiyyah yang telah membangun rumah saya dari awal hingga jadi dengan baik,” kata Ngasmani, yang sehari-hari mencari ikan di laut.

Rumah Jumaiyah (57), warga desa yang sama, juga dibangun ulang. Keduanya termasuk penerima Rumah Syukur, program bedah rumah yang tahun ini digelar untuk ke-25 kalinya sejak 2002.

Pada Agustus lalu, Organisasi Dhilaal Berkat Rohmat Alloh (Dhibra) Shiddiqiyyah Pusat meresmikan 136 unit Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS) secara serentak. Menjelang Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober, Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) tengah membangun 59 unit lagi.

Kebutuhannya memang besar. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2026, sebanyak 18,01 juta rumah tangga, atau 24,03% dari total rumah tangga nasional, menempati rumah milik sendiri yang tidak layak huni.

Rp147 miliar dari iuran jamaah

Anggaran untuk 136 unit rumah kemerdekaan tahun ini mencapai lebih dari Rp12,9 miliar, atau sekitar Rp95 juta per unit.

Sejak 2002, Dhibra telah membangun 2.070 rumah dengan total dana Rp110,17 miliar. Bila digabung dengan program Sumpah Pemuda, jumlahnya menjadi 2.466 unit senilai Rp147,48 miliar.

Menurut Mulyono dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) OPSHID, seluruh dana berasal dari iuran dan sedekah sukarela jamaah, simpatisan, serta relawan. Panitia pantang meminta bantuan, menyebar proposal ke instansi pemerintah, ataupun berafiliasi dengan partai politik.

Konsepnya pun berbeda dari bedah rumah pada umumnya. Bangunan lama dirobohkan, lalu dibangun ulang dari fondasi hingga siap huni dan dilengkapi perabot. Relawan menanggung sendiri kebutuhan logistiknya, sehingga penerima tak perlu repot menyuguhkan kopi bagi para pekerja.

Penerima Rumah Syukur, Bapak M. Taufik,
Kec. Curug, Kab. Tangerang, Banten, Jawa Barat. (Dok. OPSHIDMEDIA)

“Mengisi kemerdekaan dengan amal”

Bagi jamaah Shiddiqiyyah, program ini berakar pada ajaran “Manunggalnya Keimanan dan Kemanusiaan” serta “Hubbul Wathon Minal Iman” (cinta tanah air sebagian dari iman). Rumah Syukur digagas atas bimbingan Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Kyai Mochammad Muchtarulloh Al-Mujtaba Mu’thi.

“Santunan nasional ini adalah fakta wujud cinta tanah air dan rasa syukur kita atas nikmat kemerdekaan. Kita memiliki kewajiban mengisi kemerdekaan dengan amal yang bermanfaat bagi sesama,” kata Ketua Umum Dhibra Shiddiqiyyah Pusat, Nyai Shofwatul Ummah.

Tahun ini, 136 unit rumah kemerdekaan tersebar di 111 kabupaten/kota di 19 provinsi. Adapun 59 unit dari OPSHID tersebar di 50 kabupaten/kota di 12 provinsi, dari Lampung hingga Kalimantan. Jawa Timur menjadi lokasi terbanyak dengan 27 unit, disusul Jawa Tengah (13 unit) dan DI Yogyakarta (5 unit).

Penerimanya dipilih tanpa memandang agama, suku, atau status sosial. Usia mereka berkisar 20 hingga 74 tahun. Kebanyakan bekerja serabutan, menjadi buruh tani, buruh bangunan, atau asisten rumah tangga. Banyak pula perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga setelah ditinggal suami.

Sebagian dari mereka sebelumnya tinggal di rumah berlantai tanah yang tak pernah direnovasi sejak 1990-an.

Rombongan DPP OPSHID FKYME datang ke lokasi pembangunan rumah Munimah pada 4 Oktober. (Dok. OPSHIDMEDIA Gresik)

Dari skripsi hingga disertasi

Gerakan ini juga menarik perhatian kalangan akademik. Skripsi Nabila Febriana di IAIN Kediri (2024) mengkaji kohesi sosial lintas agama di Badas, sedangkan tesis Dwi Agustina di UIN Sunan Ampel (2020) meneliti dakwah ekonomi melalui Dhibra.

Disertasi Abd. Syakur di UIN Sunan Kalijaga menelaah pertautan sufisme dan nasionalisme, termasuk kontribusi jamaah membangun 100 unit rumah tahan gempa bagi penyintas tsunami Aceh.

Pemerintah daerah turut memberi apresiasi. Di Rembang, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda, Maruli Dwi Ronisa, menyebut Rumah Syukur sebagai fondasi pendidikan keluarga.

“Ini adalah ikhtiar bersama. Rumah adalah tempat tumbuhnya harapan,” tutur Maruli saat meletakkan batu pertama di Desa Kaliombo, Kecamatan Sulang.

Di Kendal, Bupati Dyah Kartika Permanasari menyampaikan penghargaan atas kontribusi jamaah di wilayahnya. Selain membangun rumah, jamaah di sana membagikan santunan kepada 117 warga.

Sebagai perbandingan, sepanjang semester I-2026 pemerintah telah menyalurkan bantuan bedah rumah untuk 88.635 unit rumah tidak layak huni.***