Sebelum ikrar persatuan 1928, para perintis NU membangun pendidikan dan gerakan ekonomi. Jejaknya hadir melalui Nahdlatul Wathan dan Nahdlatut Tujjar.
KOSONGSATU.ID — Kesadaran kebangsaan di lingkungan pesantren tumbuh sebelum Sumpah Pemuda diikrarkan pada 28 Oktober 1928. Pendidikan dan perdagangan menjadi bagian dari jalur pergerakannya.
KH Abdul Wahab Chasbullah bersama sejumlah ulama merintis Nahdlatul Wathan pada 1916. Dua tahun kemudian, Nahdlatut Tujjar berdiri sebagai wadah kebangkitan saudagar.
Kedua perkumpulan itu mendahului kelahiran Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Januari 1926. Ketika Kongres Pemuda II berlangsung, usia NU belum genap tiga tahun.
Pendidikan dan Kemandirian Ekonomi
Nahdlatul Wathan, yang berarti Kebangkitan Tanah Air, menjadi bagian dari kegiatan pendidikan para ulama. Kiai Wahab mengembangkan ruang belajar di tengah masyarakat yang hidup di bawah kolonialisme.
Di bidang ekonomi, Nahdlatut Tujjar menghimpun kekuatan pedagang. Gerakan ini memperluas kegiatan para ulama dari pengajaran agama menuju penguatan penghidupan masyarakat.
Dalam catatan sejarahnya, NU Online menempatkan perkumpulan tersebut sebagai bagian dari proses panjang pembentukan NU. Organisasi ini tumbuh melalui jaringan yang telah bergerak sebelumnya.
Karena itu, gerakan sebelum 1926 perlu dibedakan dari kegiatan NU sebagai organisasi. Para penggeraknya kemudian menjadi perintis dan tokoh dalam jamiah tersebut.
Selain pendidikan dan ekonomi, persoalan budaya kolonial turut dibahas para kiai. Tulisan sejarah NU Online mencatat pembahasan mengenai pakaian bercorak Belanda dalam Muktamar NU pada 1927.
Tulisan itu menafsirkan sikap tersebut sebagai perlawanan kultural terhadap penjajahan. Namun, catatan itu belum cukup untuk menyimpulkan adanya seruan umum mengangkat senjata pada tahun tersebut.
Pertemuan Berbagai Arus Kebangsaan
Sementara jaringan pesantren mengembangkan kegiatannya, organisasi pemuda membangun pertemuan lintas daerah. Kongres Pemuda II kemudian berlangsung di Batavia pada 27–28 Oktober 1928.
Menurut Museum Sumpah Pemuda, kongres diselenggarakan dalam tiga rapat di tiga tempat. Gedung Kramat 106 menjadi lokasi rapat terakhir yang melahirkan putusan persatuan.
Organisasi yang terlibat antara lain Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, serta Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia.
Jejak pendidikan dan ekonomi para perintis NU memperlihatkan bahwa kegiatan kebangsaan juga berkembang di lingkungan pesantren sebelum kongres tersebut berlangsung.
Meski demikian, hubungan langsung antara keputusan muktamar NU dan perumusan Sumpah Pemuda memerlukan bukti tersendiri. Kedekatan waktu kedua peristiwa belum membuktikan hubungan sebab-akibat.
Putusan Kongres Pemuda II menegaskan tanah air dan bangsa Indonesia, sekaligus menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
“Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia,” demikian bunyi ikrar ketiganya dalam ejaan sekarang.
Daftar Rujukan:
- Anam, Choirul. (2010). Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama. Surabaya: Duta Aksara Safira.
- Zuhri, Saifuddin. (2001). Guruku Orang-Orang dari Pesantren. Yogyakarta: LKiS.
- Abdulgani, Ruslan. (1963). Penggunaan Ilmu Sejarah. Jakarta: Prapantja.
- Suryanegara, Ahmad Mansur. (2009). Api Sejarah. Bandung: Salamadani.




Tinggalkan Balasan