Makam di kompleks Ruhabad Samarkand menyingkap rahasia besar tentang akar spiritual Wali Songo. Benarkah Syekh Ibrahim Asmoroqondi sama dengan Maulana Malik Ibrahim? Simak penelusuran sejarah transnasional yang membedah garis darah Sunan Ampel.
KOSONGSATU.ID – Di balik kemegahan kubah-kubah biru Samarkand, Uzbekistan, tersimpan peninggalan krusial yang mengikat sejarah Asia Tengah dengan kepulauan Nusantara.
Kubah Biru Ruhabad dan Rahasia Leluhur Wali Songo
Kompleks Pemakaman Ruhabad yang tenang ternyata memeluk jasad Syekh Burhanuddin Qilich Sogharji, seorang ulama besar era Amir Timur. Selama berabad-abad, publik nyaris luput menyadari bahwa tokoh besar ini menempati posisi hulu dalam silsilah Wali Songo. Ia adalah leluhur agung, kakek buyut dari Raden Ali Rahmatullah alias Sunan Ampel.
Fakta sejarah ini mengemuka terang melalui penelusuran akademis Komilxon Kattayev dan Gulnoza Kattayeva. Melalui monograf Shayx as-Sog’arjiy avlodlari va Ibrohim as-Samarqandiy tarixi (Sejarah Keturunan Syekh As-Sogarji dan Ibrahim As-Samarqandi), dua sejarawan Uzbekistan ini membedah arsip kuno Transoxiana dan menyandingkannya dengan babad lokal Asia Tenggara.
Mereka membuktikan secara ilmiah bahwa persebaran awal Islam di Jawa tidak sekadar bersandar pada jalur niaga Gujarat atau Jazirah Arab. Dakwah Islam meresap ke Nusantara membawa pertalian darah yang mengalir jauh dari jantung peradaban Asia Tengah.
Menyusuri Jalur Sutra: Dari Transoxiana hingga Champa
Jejak migrasi keluarga sufi ini membentang jauh melintasi rute perdagangan masyhur Jalur Sutra. Penelusuran arsip memetakan silsilah berantai yang dimulai dari Syekh Burhanuddin Qilich Sogharji. Ulama besar ini mewariskan api dakwah kepada putranya, Syekh Jamaluddin, yang kemudian melangkah jauh ke timur dan bermigrasi ke Beijing, Tiongkok.
Dari garis keturunan Syekh Jamaluddin di daratan Tiongkok inilah lahir Syekh Ibrahim As-Samarqandi. Tokoh inilah yang kelak melafal di lidah orang Jawa sebagai Syekh Asmoroqondi. Syekh Ibrahim meneruskan tradisi kelana keluarganya dengan bergerak ke selatan menuju Kerajaan Champa. Di pinggiran Sungai Mekong tersebut, dakwahnya menembus elite istana.
Syekh Ibrahim As-Samarqandi berhasil mengislamkan kerabat kerajaan dan menikahi Dewi Candrawulan. Dari rahim Dewi Candrawulan, lahir dua tokoh sentral yang kelak menerangi pesisir utara Jawa: Ali Murtadho (Raden Santri) dan Ali Rahmatullah (Sunan Ampel). Kelak, Sunan Ampel menurunkan generasi emas penerus dakwah, menjadikannya ayah bagi Sunan Bonang dan Sunan Drajat.
Meluruskan Sejarah: Asmoroqondi Bukan Maulana Malik Ibrahim
Pertemuan berbagai versi babad dan cerita tutur lisan sayangnya kerap melahirkan kerancuan di tengah masyarakat. Hingga kini, tidak sedikit masyarakat yang keliru menyamakan sosok Syekh Ibrahim As-Samarqandi (Asmoroqondi) dengan Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) semata-mata karena kemiripan unsur nama “Ibrahim”.
Tinjauan historis dan kronologis membantah keras mitos tersebut dan menegaskan bahwa keduanya adalah individu yang sepenuhnya berbeda.
Maulana Malik Ibrahim, yang banyak disebut memiliki akar dari kawasan Maghribi atau Timur Tengah, wafat di Gresik pada tahun 1419 Masehi. Di sisi lain, Syekh Ibrahim As-Samarqandi baru tiba di Nusantara beberapa dekade kemudian. Penelusuran sejarah mencatat Syekh Asmoroqondi datang merintis dakwah di Jawa pada kisaran paruh pertama abad ke-15, setelah melalui fase panjang di Champa dan singgah di Palembang.
Rentang waktu yang terpaut jauh ini mematahkan anggapan bahwa mereka adalah figur tunggal. Maulana Malik Ibrahim bertindak sebagai pionir awal, sementara Syekh Ibrahim As-Samarqandi menyusul kemudian untuk merekatkan sekaligus memperluas jejaring dakwah yang telah dirintis para pendahulunya.
Menjejak Pesisir Tuban: Akhir Syiar Sang Orang Suci
Memasuki pesisir utara Jawa, Syekh Ibrahim As-Samarqandi bersama rombongannya memilih mendarat di kawasan Tuban, pelabuhan internasional Kerajaan Majapahit kala itu. Teknik penyisiran dakwah melalui wilayah pinggiran ini terbukti efektif dalam membangun fondasi keumatan sebelum ajaran Islam merembes ke pedalaman Jawa.
Di kawasan Gisik yang sunyi, jauh dari ingar-bingar pusat bandar, sang orang suci dari Samarkand ini mendirikan basis pengajaran. Ia mendedikasikan sisa usianya untuk menyebarkan Islam hingga mengembuskan napas terakhir. Jasadnya dimakamkan di Dusun Rembes, Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban.
Kini, makam Syekh Ibrahim Asmoroqondi tidak pernah sepi dari peziarah. Jejak peninggalannya seperti mimbar khotbah kuno, sumur, dan beduk terus dirawat oleh masyarakat setempat. Rantai panjang pengembaraan dari kubah biru Samarkand, hiruk-pikuk Beijing, pesona Champa, hingga pesisir Tuban menjadi bukti tak terbantahkan betapa gigihnya laku diaspora para ulama masa lampau dalam menanamkan akar peradaban Islam di Nusantara.***
Daftar Rujukan:
- Kattayev, Komilxon & Kattayeva, Gulnoza. Shayx as-Sog’arjiy avlodlari va Ibrohim as-Samarqandiy tarixi (Sejarah Keturunan Syekh as-Sogharji dan Ibrahim as-Samarqandi).
- Monograf penelitian arsip Imam Bukhari International Science Research Center, Uzbekistan. (Berdasarkan catatan liputan Sahal Japara).
- Zionis, Rijal Mumazziq. Jejak Ulama Uzbekistan di Nusantara. Pesantren ID.
- Astuti, Uttiek M. Panji. Journey to the Light: Jejak Ulama Samarkand di Nusantara.
- Dokumentasi Sejarah dan Liputan Situs Makam Syekh Ibrahim Asmoroqondi, Desa Gesikharjo, Tuban (Suryamalang.com, 2023).




Tinggalkan Balasan