Donald Trump melontarkan lelucon tentang nama Mohammad saat berkampanye. Di sisi lain, Vladimir Putin pernah menegaskan bahwa penghinaan terhadap Nabi Muhammad adalah pelanggaran kebebasan beragama.

KOSONGSATU.ID–Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan lelucon soal popularitas nama Mohammad saat menyindir kursi kepresidenan Iran.

Kelakar itu ia sampaikan di hadapan para pendukungnya dalam rapat umum kampanye pemilu sela di sebuah hanggar Bandara Kota Dalton, Georgia, Jumat (16/10/2026).

“Anda tahu, jika Anda ragu dengan nama seseorang dari Timur Tengah, sebut saja ‘Mohammad’,” kata Trump, seperti dilansir Reuters, Sabtu (17/10/2026).

Trump mengklaim peluang tebakan itu tepat mencapai 65 persen. Ia mengaku sudah bertahun-tahun memanggil orang dengan nama tersebut dan tidak pernah salah.

Mohammad merupakan salah satu nama laki-laki paling umum di kalangan umat Muslim. Nama itu diambil dari nama Nabi Muhammad.

Sindiran untuk Presiden Iran

Soal kepresidenan Iran, Trump menyebut negara itu sebagai satu-satunya tempat yang tidak seorang pun ingin menjadi presidennya. Saat ini, jabatan tersebut dipegang Masoud Pezeshkian sejak 2024.

Di hadapan massanya, Trump sempat berpura-pura bertanya kepada beberapa orang bernama Mohammad apakah mereka menginginkan kursi pemimpin Iran itu.

Meski begitu, para pendukungnya di Georgia menanggapi lelucon sang presiden dengan reaksi yang dingin.

Dalam kesempatan yang sama, Trump kembali menegaskan janjinya bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.

Pernyataan itu dilontarkan sekitar tujuh bulan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Teheran, yang salah satu tujuannya melumpuhkan program nuklir negara tersebut.

Lonjakan Kasus Islamofobia

Selama ini, para pegiat hak asasi manusia dan kelompok advokasi Muslim berulang kali mengkritik retorika Trump. Ia dinilai mendemonisasi sekaligus mengejek umat Islam, imigran, dan kelompok minoritas etnis.

Retorika itu makin meningkat selama masa kampanye, khususnya yang ditujukan kepada warga Amerika keturunan Somalia dan Muslim.

Trump kerap menyasar kandidat Senat AS dari Partai Demokrat, Abdul El-Sayed, serta anggota DPR Ilhan Omar, politikus Demokrat asal Minnesota yang datang ke AS sebagai pengungsi Somalia.

Laporan tahunan Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) yang dirilis awal tahun ini mencatat lonjakan Islamofobia di Amerika Serikat.

Peningkatan itu sebagian dikaitkan dengan kebijakan keras Trump terhadap imigrasi serta sikapnya terhadap aksi protes pro-Palestina selama masa jabatan keduanya.

Pandangan Berbeda dari Putin

Pandangan yang kontras soal penghormatan terhadap agama pernah datang dari Rusia. Dalam konferensi pers tahunannya pada Desember 2021, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan menghina Nabi Muhammad bukanlah kebebasan berekspresi.

Menurut Putin, tindakan itu justru melanggar kebebasan beragama dan menodai nilai suci umat Islam.

Putin menilai kebebasan berekspresi harus dilandasi rasa hormat agar tidak memicu tindakan ekstremis. Ia menyamakan penghinaan agama dengan sikap tidak menghormati para pejuang Perang Dunia II, seperti memajang potret Adolf Hitler di situs peringatan pahlawan.

“Apakah ini kebebasan berkreasi? Saya kira tidak. Ini adalah pelanggaran kebebasan beragama dan pelanggaran perasaan suci orang-orang yang memeluk Islam,” ujar Putin.

Rusia, kata dia, dibentuk sebagai negara multietnis dan multiagama. “Kami pada dasarnya terbiasa memperlakukan kepentingan dan tradisi satu sama lain dengan hormat,” tutur Putin.***