Novelis Irlandia Sally Rooney menarik peredaran bukunya dan membatalkan perjalanan ke Inggris demi mendukung Palestine Action, meski terancam pidana terorisme.
KOSONGSATU.ID-Novelis asal Irlandia, Sally Rooney, menarik seluruh karya bukunya dari peredaran di Inggris Raya sekaligus membatalkan perjalanannya ke negara tersebut karena khawatir ditangkap aparat.
Langkah ini diambil menyusul dukungannya terhadap Palestine Action, kelompok pro-Palestina yang baru-baru ini ditetapkan sebagai organisasi terlarang oleh pemerintah Inggris.
Dalam wawancaranya bersama harian The Guardian, Sally menjelaskan bahwa pemenuhan kontrak penerbitan di Inggris saat ini berpotensi menjadi tindak pidana serius akibat sikap politiknya menentang genosida oleh Israel.
“Setelah melalui proses konsultasi dan pertimbangan, serta dengan persetujuan penuh dari saya, penerbit saya, Faber, memutuskan bahwa mereka tidak lagi dapat mendistribusikan karya-karya saya di Inggris,” kata Sally.
Potensi Tindak Pidana
Penulis novel Normal People yang sukses meraup lebih dari satu juta kopi penjualan itu menyadari risiko hukum yang mengintainya. Berdasarkan Undang-Undang Terorisme Inggris, mendukung organisasi yang dilarang merupakan pelanggaran berat.
Menteri Dalam Negeri Inggris, Yvette Cooper, membela pelarangan terhadap kelompok pro-Palestina yang gencar dilakukan sejak Juli lalu. Menurut Cooper, Palestine Action bukan sekadar kelompok protes biasa. Namun, Sally menyatakan siap menghadapi ancaman tersebut demi prinsipnya.
“Saya telah berupaya semaksimal mungkin untuk bersikap jujur kepada publik mengenai keyakinan dan niat saya, dan saya sepenuhnya siap menerima konsekuensinya,” ujar penulis yang karyanya mencetak 62,7 juta penayangan saat diadaptasi menjadi serial BBC pada 2020 tersebut.
Dukungan untuk Palestine Action
Selain menarik bukunya, Sally berjanji akan menyumbangkan hasil royalti dan penjualannya secara langsung untuk mendukung masyarakat Gaza melalui Palestine Action. Keputusan tersebut mendapat respons positif dari kalangan aktivis pro-Palestina.
Salah satu pendiri Palestine Action, Huda Ammori, menyebut langkah Sally sebagai tindakan yang berani dan berprinsip. Ammori menilai larangan distribusi karya novelis kenamaan tersebut mencerminkan represi pemerintah. “Ini menandai titik terendah baru dalam meningkatnya serangan terhadap kebebasan berbicara akibat pelarangan Palestine Action,” tutur Ammori.
Rekam Jejak Boikot Israel
Ihwal dukungan terhadap kemerdekaan Palestina, sikap vokal Sally telah dimulai sejak beberapa tahun lalu. Pada 2021, penulis novel Intermezzo ini menolak hak terjemahan bahasa Ibrani untuk bukunya, Beautiful World, Where Are You, oleh penerbit asal Israel.
Meski menuai hujatan dan pelabelan ekstremis di Inggris, Sally tetap mempertahankan dukungannya terhadap gerakan perlawanan warga Gaza. Melalui tulisan terbarunya di kolom opini Irish Times, ia menyatakan terus mendukung aksi langsung untuk menghentikan genosida.
“Jika ini menjadikan saya pendukung teror di bawah hukum Inggris, biarlah,” kata Sally.***




Tinggalkan Balasan