Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memindahkan kegiatan belajar SMA, SMK, dan SLB ke rumah mulai Jumat (16/10) karena asap kebakaran hutan dan lahan — pada pekan yang sama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan lima tersangka dugaan korupsi dana siap pakai kebencanaan di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

KOSONGSATU.ID — Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution mengeluarkan arahan itu pada Kamis (15/10), setelah kualitas udara di beberapa wilayah memburuk sepanjang pekan.

“Anak-anak tetap belajar dari rumah, bukan libur,” kata Bobby.

Ia juga meminta bupati dan wali kota memantau kondisi udara di daerah masing-masing. “Bupati/walikota juga kami harapkan terus memantau perkembangan kondisi udara,” ujarnya.

Pemerintah provinsi menyebutkan sudah mencoba cara teknis untuk mengurangi asap. “Kita telah mencoba modifikasi cuaca di wilayah Kabupaten Samosir,” kata Bobby, sembari menambahkan bahwa pihaknya bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.

Asap yang datang dari provinsi lain

Yang membuat kasus Sumatera Utara tidak lazim: asapnya bukan produksi sendiri.

Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan, Hendro Nugroho, menyatakan “tidak terdapat titik panas di wilayah Sumatera Utara” pada Selasa (13/10). Pada hari yang sama, BMKG memantau 2.253 titik panas di Sumatra bagian selatan.

Prakirawan BMKG Silangit, Christy, menjelaskan jalur perpindahannya. “Asap yang berasal dari Sumatera bagian selatan masuk ke wilayah kawasan Danau Toba,” katanya.

Sepekan sebelumnya, pada Kamis (08/10), BMKG mencatat 4.845 titik panas di seluruh Sumatra. Sumatera Selatan menyumbang 3.847 titik, disusul Jambi 384, Bangka Belitung 316, dan Lampung 251. Sumatera Utara hanya memiliki lima titik.

“Di Riau, terdapat 19 titik panas yang terpantau,” kata Prakirawan BMKG Pekanbaru, Yasir Prayuna, merujuk data hari itu.

Dampaknya justru berpindah ke utara. Jarak pandang di Stasiun Meteorologi Aek Godang dan Silangit menyusut menjadi 1–4 kilometer, sementara di kawasan Danau Toba tersisa 1–3 kilometer. Kualitas udara di kawasan itu masuk kategori sangat tidak sehat pada Rabu (14/10), dan penyeberangan ke Pulau Samosir ikut terganggu.

Udara “di atas 200”

Di Jambi, Sekretaris Daerah Kota Jambi, Ridwan, memberlakukan bekerja dari rumah bagi aparatur sipil negara yang hamil dan yang menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

“Dengan kondisi udara di atas 200 ini melakukan aktivitas kegiatan dari rumah,” katanya.

Asap juga menjangkau Aceh. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Lhokseumawe, Taruna Putra Satya, mengimbau warga menahan diri. “Kami mengimbau masyarakat agar membatasi aktivitas di luar rumah, terutama saat asap sangat pekat,” ujarnya.

Rahmat Mirza, warga Lhokseumawe, menggambarkan reaksi tetangganya. “Mulai tadi sore sudah banyak warga borong beli masker, karena asapnya sudah kelihatan,” katanya.

Dana yang semestinya memadamkan

Krisis asap ini bergulir bersamaan dengan perkara di KPK yang menyangkut uang penanganan bencana.

KPK menggelar operasi tangkap tangan pada Selasa (13/10) dan mengamankan 14 orang, lalu menetapkan lima tersangka. Di antaranya Gabriel Purwaka Sigit, Kasubdit Pengelolaan Bantuan dan Kedaruratan BNPB yang juga Pejabat Pembuat Komitmen, serta Bima Setiawan yang disebut sebagai adik Kepala BNPB Letjen Suharyanto. Dua tersangka lain berasal dari pihak swasta.

Adik Kepala BNPB Suharyanto, Bima Setyawan jadi tersangka kasus dugaan korupsi Dana Siap Pakai kebencanaan.(Istimewa)

Penyidik menyita sekitar Rp3,3 miliar uang tunai, aset kripto, dan logam mulia.

Ketua KPK Setyo Budiyanto menyebutkan dana itu “disalahgunakan oleh beberapa oknum untuk keuntungan dirinya sendiri”.

“Dari dana siap pakai itu kan melibatkan ada perusahaan-perusahaan swasta,” katanya.

Sekretaris Utama BNPB, Rustian, dilepaskan setelah pemeriksaan intensif 1×24 jam dan tidak ditetapkan sebagai tersangka. Para tersangka ditahan 20 hari pertama di Rumah Tahanan KPK.

Sejumlah anggota DPR kemudian mendesak audit menyeluruh atas anggaran penanganan bencana.

KosongSatu.ID telah menghubungi BNPB untuk meminta tanggapan atas perkara ini dan kesiapan penanganan asap di Sumatra, tetapi belum mendapat tanggapan hingga artikel ini diterbitkan.

Di Sumatera Utara, murid SMA, SMK, dan SLB memulai pekan berikutnya dari rumah — menunggu angin berganti arah, atau hujan yang belum dijanjikan siapa pun.***