Hampir empat tahun setelah kapal perang Iran IRINS Dena-75 bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, nama pelabuhan yang sama muncul dalam laporan soal Unit 4000 Garda Revolusi Iran. Klaim itu belum terbukti, tapi dalam lima pekan sudah masuk media nasional dan memaksa Kedutaan Besar Iran bersuara.
KOSONGSATU.ID — “Kita bisa diserang dan sudah mulai diserang melalui siber, melalui disinformasi, melalui berita-berita bohong,” kata Presiden Prabowo Subianto dalam upacara HUT ke-81 TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (5/10/2026).
Laporan tentang Unit 4000 itu bersandar pada sumber tanpa nama. Para pengamat menyebut pola semacam ini sebagai perang proksi informasi: pihak luar memengaruhi persepsi publik tanpa terlibat langsung, dengan meminjam kanal berita, akun media sosial, atau media lokal.
Dari Iran International ke Media Nasional
Iran International menerbitkan laporan itu pada 31 Agustus 2026. Sindonews mengulasnya pada 10 September dengan judul bertanda tanya. Empat hari kemudian, CNBC Indonesia mengutip laporan serupa sambil mencatat belum ada tanggapan Iran.
Iran International kemudian menambahkan klaim bahwa komandan Unit 4000, Rahman Moghaddam, selamat dari serangan Israel. Klaim itu bertentangan dengan pengungkapan Mossad, Shin Bet, dan militer Israel pada April 2026, yang menyebut Moghaddam terkena serangan udara.
Pihak pertama yang terdampak justru bukan Iran. Ahlulbait Indonesia (ABI), yang nama tokohnya disebut dalam laporan, membantah keterlibatan dengan IRGC pada 13 September. Menurut ABI, informasi dari sumber anonim tetap memerlukan pengujian, dan pengutipan media lain tidak dengan sendirinya mengubahnya menjadi fakta terverifikasi.
Kedubes Iran di Jakarta baru membantah pada 25 September. Kedubes menyebut laporan itu tidak kredibel dan menilai media Indonesia yang memuat ulang laporan tersebut menyimpang dari etika jurnalistik.
Siapa Meminjam Siapa?
Kedubes Iran menyebut Iran International sebagai media yang didanai Israel. Catatan sebelumnya menunjuk arah lain. Pada 2018, The Guardian melaporkan media itu didanai perusahaan yang direkturnya dekat dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. Iran International membantah memiliki hubungan dengan pemerintah mana pun.
Iran sendiri pernah tercatat menjalankan operasi serupa. Pada 2019, Meta menghapus 513 halaman, grup, dan akun dari jaringan terkait Iran yang beroperasi di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Pengelolanya menyamar sebagai warga lokal dan media rekaan.
Pemantauan Teknis Belum Menjangkau Narasi
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat 5,16 miliar anomali trafik internet sepanjang 2025, atau sekitar 182 potensi serangan per detik. Dari 1 Januari hingga 15 April 2026, angkanya mencapai 1,52 miliar. Kapasitas pemantauan BSSN disebut belum mencapai 10 persen dari seluruh trafik nasional. Angka itu mengukur ancaman teknis, bukan operasi pengaruh lewat pemberitaan.
Kementerian Komunikasi dan Digital mengidentifikasi 1.890 konten hoaks pada periode 20 Oktober 2024 hingga 6 Desember 2025. Laporan seperti Unit 4000 sulit tertangkap dalam kategori itu karena terbit sebagai produk jurnalistik di media berbadan hukum.
“Kita agak tertinggal sedikit ya dari negara lain, tapi kita berusaha untuk tetap menyesuaikan,” kata pengamat pertahanan Laksamana Muda TNI (Purn.) Surya Wiranto kepada SINDOnews, 16 September lalu.
Penelusuran hingga Senin (5/10/2026) belum menemukan tanggapan resmi Kementerian Luar Negeri, Badan Intelijen Negara, TNI, maupun BSSN. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan aksi militer terhadap Iran dapat berlanjut setelah pemilu sela 3 November bila negosiasi gagal.
Saat Dena-75 bersandar di Priok pada November 2022, komandannya, F. Fattahi, menyebut misinya bertujuan mengamankan jalur pelayaran internasional. Kini nama pelabuhan itu beredar dalam narasi yang berbeda, dan belum ada otoritas yang memverifikasinya. ***




Tinggalkan Balasan