Prasasti Ligor dan Nalanda memang mengikat Wangsa Syailendra dengan Sriwijaya, tetapi tak satu pun menyebut kas Sriwijaya membiayai pembangunan Borobudur.

KOSONGSATU.ID — Sampul bukunya memajang Borobudur. Namun dari segelintir prasasti yang tersisa, arus pengaruh justru bergerak dari Jawa ke Sumatra, bukan sebaliknya.

Sabtu (26/09), di teater Gedung C Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Herald van der Linde meluncurkan buku tentang Sriwijaya. Sampulnya tidak memajang Palembang atau Muara Jambi, melainkan Candi Borobudur.

Menurut keterangan penerbitnya, Monsoon Books, buku setebal 432 halaman itu menggambarkan setiap kapal yang melintasi Selat Malaka sebagai tambahan kas Sriwijaya. Kas itulah, dalam narasi buku, yang ikut melahirkan Borobudur.

Kepada hadirin, Van der Linde menjelaskan bahwa ia menelaah ratusan karya dan sumber sejarah. Bukunya menelusuri Sriwijaya sejak catatan biksu I-Tsing hingga hubungannya dengan Wangsa Syailendra dan pembangunan Borobudur, lapor RRI.

Klaim itu kembali memantik perdebatan lama. Siapa sebenarnya pemilik “proyek” monumen Buddha terbesar di dunia ini?

Pertanyaan ini lebih dari sekadar urusan akademik. Borobudur menerima sekitar 1,4 juta pengunjung pada musim ramai, menurut pengelolanya, InJourney. Cerita tentang asal-usulnya ikut membentuk cara publik memahami hubungan Jawa dan Sumatra di masa lampau.

Masalahnya, kedua kubu yang berdebat sama-sama berpijak pada bukti yang tipis. Dari prasasti yang ada, yang muncul bukan kisah Sriwijaya mendanai Jawa, melainkan jejak dinasti Jawa yang belakangan bertakhta di Sumatra.

Tujuh prasasti untuk satu kerajaan raksasa

Sriwijaya dikenal sebagai penguasa jalur laut, tetapi meninggalkan sangat sedikit catatan tertulis. Epigraf J.G. de Casparis mencatat hanya tujuh prasasti yang secara eksplisit menyebut nama Sriwijaya.

Jawa memperlihatkan gambaran yang berbeda. Menurut De Casparis, jumlah prasasti Jawa Kuno dan Bali Kuno jauh lebih besar. Dari Canggal, Kalasan, Kelurak, hingga Kayumwungan, Mataram Kuno meninggalkan rangkaian catatan yang nyaris tanpa jeda.

Ketimpangan ini menentukan cara kita membaca sejarah. Kerajaan yang hanya meninggalkan tujuh “suara” akan lebih banyak dipahami lewat rekonstruksi ketimbang lewat pernyataannya sendiri, termasuk soal pengaruhnya di Borobudur.

Ada satu data lain yang memperumit gambaran. Biksu Tiongkok Faxian, yang terdampar di pulau yang kemungkinan besar Jawa sekitar 413 M, melaporkan bahwa kaum brahmana banyak dijumpai, sedangkan umat Buddha nyaris tak ada.

Artinya, gelombang besar agama Buddha di Jawa baru datang beberapa abad kemudian. Dari mana dorongannya, itulah celah yang diisi berbagai tafsir, termasuk tafsir Van der Linde.

Jejak yang tersimpan di Thailand dan India

Meski begitu, anggapan bahwa tak ada satu pun prasasti yang mengaitkan Syailendra dengan Sriwijaya juga keliru. Dua bukti terpenting justru ditemukan di luar Indonesia.

Bukti pertama adalah Prasasti Ligor bertarikh 775 M, yang ditemukan pada 1907 di Nakhon Si Thammarat, Thailand selatan. Prasasti berbahasa Sanskerta ini menandai perluasan kuasa Sriwijaya ke Semenanjung Malaya.

Nama Syailendra muncul di sisi sebaliknya, yang dikenal sebagai Ligor B. Sebuah kajian di jurnal SPAFA berpendapat sisi itu ditambahkan sekitar 75 tahun kemudian atas perintah Balaputradewa.

Bukti kedua adalah Prasasti Nalanda dari India, sekitar 860 M. Di dalamnya, Balaputradewa, penguasa Suwarnadwipa (Sumatra), menyebut dirinya keturunan raja Syailendra dari Jawa dan putra Samaragrawira.

Dengan kata lain, pada pertengahan abad ke-9 seorang pangeran Syailendra bertakhta di Sumatra. Kronologinya berbalik dari narasi buku: dinasti pembangun Borobudur yang kemudian hadir di Sriwijaya.

Asal-usul Syailendra sendiri masih diperdebatkan. Prasasti Sojomerto memakai bahasa Melayu Kuno dan menyebut “Dapunta Selendra”, yang memunculkan dugaan asal Sumatra. Analisis yang lebih baru meragukan kesamaan nama itu.

Apa yang tertulis tentang Borobudur

Untuk Borobudur sendiri, bukti tertulisnya berasal dari Jawa dan menunjuk ke istana Jawa. Prasasti Kayumwungan (824 M) mencatat pendirian Jinalaya, sedangkan Prasasti Tri Tepusan (842 M) menetapkan tanah sima untuk Kamulan i Bhumisambhara.

Banyak ahli mengaitkan nama Bhumisambhara dengan Borobudur. Namun tidak ada satu pun dari prasasti itu yang menyebut aliran dana atau perintah dari Sriwijaya.

Di sinilah titik terlemah klaim “dibiayai Sriwijaya”. Klaim itu lahir dari tafsir atas kedekatan dinasti, bukan dari catatan tertulis tentang pembiayaan.

Skala monumennya juga perlu ditimbang. Borobudur memuat 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha, proyek yang menuntut tenaga kerja dan surplus pangan dalam jumlah besar.

Syailendra kerap digambarkan sebagai kekuatan maritim. Namun sejumlah kajian mencatat dinasti ini juga bertumpu pada persawahan intensif di Dataran Kedu, lumbung pangan yang letaknya tepat di sekitar Borobudur.

Bukan Merapi, bukan pula satu sebab tunggal

Perdebatan serupa membayangi akhir kisah Mataram Kuno. Selama puluhan tahun, teori geolog R.W. van Bemmelen menyebut letusan besar Merapi pada 1006 mengubur Borobudur dan memicu pralaya, atau kehancuran kerajaan.

Kajian Supriati Dwi Andreastuti, Chris Newhall, dan Joko Dwiyanto di Jurnal Geologi Indonesia (2006) menggugat teori itu. Letusan sebesar itu semestinya meninggalkan endapan yang mudah ditemukan, tetapi endapan tersebut tidak pernah teridentifikasi.

Menurut mereka, pralaya yang dicatat Prasasti Pucangan terjadi pada 1016 atau 1017 dan dipicu serangan Raja Wurawari, bukan letusan gunung. Merapi memang tercatat mengalami 11 letusan besar dalam 3.000 tahun terakhir, tetapi tidak satu pun yang cocok dengan tahun 1006.

Peristiwa itu pun menimpa istana di Jawa Timur. Pusat kerajaan sudah berpindah ke sana sekitar 929 pada masa Mpu Sindok, dengan sebab yang masih dibahas: faktor alam, politik, hingga daya tarik Delta Brantas.

Prasasti Pucangan sendiri bertarikh 1041 M dan disusun pada masa Airlangga. Batu itu kini tersimpan di Indian Museum, Kolkata, sehingga dikenal sebagai Calcutta Stone.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengajukan permintaan pemulangannya kepada India pada November 2024.

Di tengah tarik-menarik tafsir ini, catatan paling hangat justru datang dari Prasasti Nalanda. Raja Dewapaladewa dari India membebaskan lima desa dari pajak untuk menghidupi biara yang didirikan Balaputradewa, tempat para biksu dari Suwarnadwipa belajar.

Jika ada aliran dana yang benar-benar terpahat di batu, arahnya bukan dari Sumatra ke Jawa. Arahnya dari lima desa di India untuk para pelajar dari Nusantara, dan batu yang mencatatnya hingga kini masih berada jauh dari kedua pulau itu.***


Daftar Rujukan

  • Van der Linde, Herald. (2026). Srivijaya: Power, Trade and Faith in Indonesia’s First Maritime Empire. Monsoon Books.
  • RRI Voice of Indonesia. (28/09/2026). Peluncuran buku Srivijaya di Museum Nasional Indonesia.
  • De Casparis, J.G. “Some Notes on the Epigraphic Heritage of Srivijaya”. SPAFA Digest.
  • “On the Date of the Inscription of Ligor B”. SPAFA Digest.
  • Zakharov, Anton O. (2012). The Śailendras Reconsidered. Nalanda-Sriwijaya Centre Working Paper No. 12, ISEAS.
  • Andreastuti, S.D., Newhall, C., & Dwiyanto, J. (2006). “Menelusuri Kebenaran Letusan Gunung Merapi 1006”. Jurnal Geologi Indonesia, 1(4).
  • Kusen. “Raja-raja Mataram Kuna dari Sanjaya sampai Balitung”. Berkala Arkeologi, 14(2).
  • Prasasti Kedukan Bukit, Ligor (775), Kalasan (778), Kayumwungan (824), Tri Tepusan (842), Nalanda (±860), Pucangan (1041).
  • Encyclopaedia Britannica, entri “Faxian”.