Borobudur terbukti dibangun dengan rekayasa canggih: dari sistem interlock tahan gempa hingga orientasi astronomi.

KOSONGSATU.ID—Borobudur tidak hanya menjadi monumen keagamaan, tetapi juga bukti kemajuan teknologi Nusantara masa lalu. Arsitek Gunadharma diyakini merancang candi ini berdasarkan pengetahuan arsitektur, astronomi, drainase, dan geografi tingkat tinggi.

Sistem Interlock Alami Tahan Gempa

Data dalam buku Candi Indonesia: Seri Jawa karya Edi Sedyawati, Hasan Djafar, dan tim (Kemdikbud, 2013) mencatat bahwa Borobudur merupakan pengecualian dibandingkan candi-candi Jawa lain. Jika kebanyakan candi dibangun dengan pemadatan tanah dan ruangan bawah tanah, Borobudur justru didirikan di atas bukit yang dipahat, mengikuti bentuk bangunan yang diinginkan.

Fondasi terluar masuk sekitar satu meter ke dalam tanah dan bertumpu pada lapisan batu karang. Di atasnya, jutaan balok andesit disusun tanpa semen perekat. Total sekitar dua juta balok digunakan, masing-masing disusun dengan teknik kuncian alami sehingga mampu menahan guncangan gempa.

Balok-balok andesit itu dipahat dengan presisi untuk membentuk 1.460 panel relief dan 504 arca Buddha. Para pemahat bekerja dengan pemahaman proporsi tiga dimensi, agar relief tetap terbaca jelas dari berbagai sudut.

Penelitian menunjukkan bentuk candi mengikuti kontur Bukit Menoreh. Hal ini memperlihatkan pemahaman nenek moyang Indonesia terhadap rekayasa geoteknik dan keseimbangan struktur jauh sebelum teknik modern diperkenalkan.

Sistem Drainase Canggih

Di sela susunan batu Borobudur terdapat saluran air tersembunyi. Sistem ini menyalurkan air hujan agar tidak menumpuk dan merusak struktur, membuat candi tetap stabil meski menghadapi ribuan musim hujan tropis.

Keberadaan Sungai Progo dan Elo di sekitar kawasan diduga berperan sebagai bagian dari sistem alami yang mendukung drainase. Lokasi Borobudur yang berada di antara lembah subur juga meminimalkan risiko genangan.

Orientasi Geografi dan Pemilihan Lokasi

Secara geografis, Borobudur berdiri pada ketinggian sekitar 265 meter di atas permukaan laut di dataran Kedu, dikelilingi deretan gunung. Lokasi ini dipilih untuk menghindari banjir sekaligus memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya seperti air bersih dan batu andesit.

Transportasi air diduga digunakan untuk mengangkut batu-batu dari sungai dekat situs, ditambah sistem rel bambu untuk memindahkan material ke area konstruksi.

Penelitian arkeoastronomi menemukan orientasi Borobudur sejajar dengan Gunung Merapi dan Gunung Sumbing. Sejarawan menilai posisi ini bukan kebetulan melainkan bagian dari pengetahuan orientasi geografis pada masa itu.

“Keberadaan Candi Borobudur di kawasan ini layaknya saujana dalam cekungan bejana di antara gunung-gunung yang mengelilinginya,” ujar Ir. Dwita Hadi Rahmi, M.A., Dosen Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik UGM, dikutip dari situs resmi UGM (diakses 2025).

Observatorium Astronomi Kuno

Sejumlah ahli menilai Borobudur juga berfungsi sebagai observatorium astronomi. Arah bangunan berkaitan dengan titik matahari terbit dan terbenam saat solstis, mengindikasikan pemahaman astronomi tingkat tinggi.

Ritual keagamaan diduga mengikuti pergerakan benda langit, memperlihatkan bahwa pengetahuan astronomi terintegrasi dalam praktik spiritual masyarakat masa itu.

Hingga kini Borobudur menjadi objek penelitian lintas disiplin—arkeologi, geologi, hingga fisika struktur—karena presisi ilmiah yang terkandung di dalamnya.***