Riset terbaru BRIN mengungkap sungai purba di Paparan Sunda menjadi ‘jalur tol’ utama migrasi manusia purba di Asia Tenggara.


KOSONGSATU. ID – ​Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru saja mengungkap temuan revolusioner terkait perjalanan awal manusia di Asia Tenggara. Ratusan ribu tahun lalu, sebuah jaringan sungai raksasa yang kini tenggelam di bawah perairan Indonesia ternyata memegang peran krusial.

Sungai purba di kawasan Paparan Sunda (Sundaland) ini berfungsi layaknya ‘jalur tol’ bagi manusia modern awal (Homo sapiens) untuk menyebar dan membangun peradaban.

​Selama bertahun-tahun, dunia sains meyakini coastal migration theory atau teori migrasi pesisir. Teori lama ini berasumsi bahwa nenek moyang kita menyusuri garis pantai secara eksklusif saat berpindah tempat. Namun, bukti terbaru dari riset geomorfologi dan paleogeografi sukses mematahkan asumsi tersebut.

​Koridor Ekologis yang Terlupakan

​Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PR APS) BRIN, Vida Pervaya Rusianti Kusmartono, menegaskan temuan penting ini. Ia menjelaskan bahwa pada masa Pleistosen, Paparan Sunda memiliki sistem aliran sungai purba yang sangat besar. Sayangnya, kenaikan muka air laut pada akhir zaman es perlahan menenggelamkan daratan luas tersebut.

​Menurut Vida, alur sungai purba itu bertransformasi menjadi koridor ekologis yang sangat kaya sumber daya. Kondisi alam ini sangat mendukung pergerakan berkelompok manusia prasejarah menuju wilayah pedalaman, bahkan hingga menyentuh kawasan Wallacea.

​”Mobilitas manusia prasejarah kemungkinan tidak hanya mengikuti jalur pesisir, tetapi juga memanfaatkan sistem sungai purba sebagai jalur perpindahan,” terang Vida, dikutip dari situs resmi BRIN, Kamis (6/6/2026).

​Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa migrasi manusia dari Afrika menuju Asia Tenggara tidak terjadi dalam satu gelombang instan. Proses ini memakan waktu amat panjang melalui rute yang sangat beragam. Saat zaman es (glasial) melanda bumi, penyusutan drastis muka air laut menyatukan pulau-pulau Asia Tenggara menjadi daratan Sundaland yang masif. Di atas hamparan bumi inilah, aliran sungai besar memandu langkah nenek moyang kita masuk ke relung-relung pedalaman Nusantara.

​Kalimantan Sebagai ‘Terminal’ Utama

​Bergeser ke bagian timur Paparan Sunda, Pulau Kalimantan menempati posisi yang sangat strategis. Kawasan ini berperan sebagai jembatan atau ‘terminal’ persinggahan utama bagi manusia purba sekitar 45.000 hingga 30.000 tahun silam. Setelah bermukim di Kalimantan, mereka kemudian melanjutkan perjalanan jauh ke wilayah Wallacea (Indonesia bagian tengah) dan Sahul (kawasan daratan Australia-Papua).

​Peneliti PR APS BRIN lainnya, Bambang Sugiyanto, memperkuat narasi sejarah ini lewat penelitian mendalamnya di wilayah Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan. Ia memastikan bahwa kawasan bentang alam tersebut menjadi urat nadi pergerakan manusia prasejarah di pulau Borneo.

​Bersama timnya, Bambang berhasil menggali ragam bukti kuat dari sejumlah gua purba. Mereka menemukan berbagai artefak berharga, mulai dari alat batu, sisa-sisa fauna purba, gerabah, gambar cadas, hingga kerangka manusia purba yang berumur sekitar 6.000 tahun.

​”Temuan gambar cadas berwarna hitam di Kalimantan Selatan menjadi karakteristik unik yang berbeda dengan wilayah lain di Kalimantan,” ungkap Bambang menyoroti kekhasan jejak peradaban tersebut.

​Tidak hanya berfungsi sebagai rute transit perjalanan, Bambang juga mencatat bahwa masyarakat prasejarah menjadikan gua-gua di Pegunungan Meratus sebagai pusat kehidupan. Mereka tinggal, memakamkan kerabat, serta menggelar berbagai aktivitas ritual sakral di dalam rongga-rongga batu tersebut.

​Menulis Ulang Sejarah Kedatangan Manusia

​Temuan memukau dari para peneliti BRIN ini membuka lembaran baru dalam cara kita memandang sejarah Nusantara. Jaringan sungai purba di Paparan Sunda terbukti bukan sekadar aliran air biasa, melainkan urat nadi ekologis yang memfasilitasi persebaran nenek moyang kita di Asia Tenggara. Kini, kita menyadari bahwa jejak langkah pertama peradaban di Nusantara menyimpan dinamika yang jauh lebih kompleks dan menakjubkan dari yang tertulis di buku teks sejarah lama.***