Di tengah malam yang sunyi, ribuan orang memilih bisu. Bukan karena tidak punya suara — melainkan karena mereka tahu kapan diam jauh lebih kuat dari kata-kata.
KOSONGSATU.ID — Setiap tahun, saat pergantian tahun Jawa tiba, dua kota besar di Jawa Tengah melakukan sesuatu yang terasa mustahil di era notifikasi tanpa jeda: mereka sepakat untuk diam. Bukan karena ada yang memerintah. Melainkan karena ingatan kolektif itu masih hidup — bahwa keheningan adalah bentuk perlawanan paling tua yang dikenal manusia Jawa.
Akar yang Lebih Dalam dari Sekadar Kalender
Malam 1 Suro bukan sekadar perayaan tahun baru. Ia lahir dari keputusan politik sekaligus spiritual. Pada 8 Juli 1633, Sultan Agung Hanyakrakusuma menyatukan dua sistem waktu yang selama ini berjalan sendiri-sendiri: kalender Saka Hindu yang berbasis matahari dan kalender Hijriah Islam yang berbasis bulan. Hasilnya adalah Kalender Jawa — sebuah sintesis peradaban yang menetapkan 1 Suro bertepatan dengan 1 Muharam. Sejak saat itu, pergantian tahun bukan hanya soal angka, melainkan momen di mana seluruh denyut kehidupan diminta untuk berhenti sejenak.
Berhenti itulah inti dari Tapa Bisu.
Dua Kota, Dua Cara Berdiam
Surakarta dan Yogyakarta sama-sama merawat tradisi ini, meski masing-masing dengan caranya sendiri. Di Surakarta, Kirab Pusaka Dalem digelar oleh Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran dalam dua prosesi terpisah. Iringan pusaka yang dipimpin Kebo Bule keturunan Kiai Slamet menembus malam tanpa sepatah kata — para peserta berjalan dalam hening, sebagian tanpa alas kaki, mengenakan beskap hitam dan kebaya gelap.
Di Yogyakarta, Mubeng Beteng punya karakter tersendiri. Tradisi ini disebut hajad kawula dalem — inisiatif abdi dalem dan warga, bukan titah raja. Ribuan orang berjalan mengitari Benteng Baluwarti sejauh lima kilometer, berlawanan arah jarum jam sebagai simbol lampah prihatin — langkah duka dan perenungan. Prapto Yuwono, pengajar Sastra Jawa Universitas Indonesia, menyebut bahwa Sultan Agung memang mencanangkan malam ini sebagai waktu untuk prihatin: tidak berpesta, tidak berbuat sesuka hati, melainkan menyepi dan memohon kepada Tuhan.



Tinggalkan Balasan