Modifikasi cuaca berpotensi membantu membasahi lahan rawan kebakaran. Namun, hasilnya bergantung pada kondisi atmosfer dan perlu diukur dengan pembanding yang memadai.
KOSONGSATU.ID — Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC menjadi salah satu instrumen pemerintah mengendalikan kebakaran hutan dan lahan. Namun, teknologi ini tidak menjamin hujan turun di setiap lokasi.
Penyemaian memanfaatkan awan dengan karakteristik yang sesuai untuk meningkatkan peluang pembentukan hujan. Ketika awan potensial terbatas, ruang pelaksanaan operasi ikut menyempit.
Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO menjelaskan bahwa teknologi modifikasi cuaca tidak dapat menciptakan sistem awan hujan dari ketiadaan.
Lembaga itu juga mengingatkan bahwa hasil penyemaian bergantung pada karakteristik alami awan. Keberhasilan suatu percobaan tidak dapat langsung diterapkan pada lingkungan berbeda.
Di Indonesia, kebutuhan evaluasi tersebut relevan ketika operasi diperluas untuk menghadapi karhutla sekaligus mengurangi dampak asap terhadap masyarakat.
Apa yang Ditunjukkan Penelitian?
Penelitian dalam repositori IPB pada 2026 mengevaluasi peran modifikasi cuaca dalam mitigasi karhutla dan pengurangan emisi karbon.
Kajian Budi Harsoyo dan tim membandingkan wilayah sasaran dan wilayah pembanding, serta periode sebelum dan sesudah perubahan pendekatan operasi menjadi lebih preventif.
Pendekatan itu menempatkan pembasahan gambut sebelum kebakaran sebagai sasaran, bukan hanya mengandalkan hujan untuk membantu pemadaman.
Penelitian tersebut melaporkan penurunan titik panas dan luas kebakaran yang lebih besar di wilayah sasaran dibandingkan wilayah pembanding.
Perhitungan ekonominya menghasilkan rasio manfaat-biaya sebesar 60 pada 2019 dan 173 pada 2023. Angka itu merupakan hasil valuasi berdasarkan metode dan asumsi penelitian.
Hasil tersebut menunjukkan potensi manfaat OMC. Namun, nilainya tidak otomatis menjadi ukuran keuntungan setiap operasi atau jaminan hasil serupa di seluruh daerah.
Pengukuran juga perlu membedakan hujan yang dipengaruhi penyemaian dari hujan yang tetap mungkin terjadi secara alami.
WMO menyarankan evaluasi statistik dengan membandingkan kejadian yang disemai dan tidak disemai, disertai bukti fisik serta penjelasan tingkat ketidakpastiannya.
Karena itu, klaim peningkatan hujan perlu dibaca bersama lokasi, periode, kondisi awan, dan metode pengukurannya.
Operasi Asap dan Pembasahan Lahan Memiliki Sasaran Berbeda
Perkembangan di Sumatra Selatan memperlihatkan penggunaan modifikasi cuaca yang lebih beragam. Operasi tidak hanya diarahkan pada pembentukan hujan, tetapi juga penanganan asap.
Dalam keterangan 23 Oktober, BMKG menjelaskan penggunaan es kering untuk membantu melemahkan lapisan inversi yang menahan asap dekat permukaan.
Sementara itu, natrium klorida atau NaCl digunakan untuk menyemai awan potensial hujan. Pemilihan bahan mengikuti pemantauan kondisi atmosfer.
Hingga 22 Oktober, petugas telah melaksanakan 18 sorti: 14 menggunakan dry ice dan empat menggunakan NaCl. Operasi diperpanjang hingga 5 November 2026.
BMKG menegaskan bahwa efektivitas operasi bergantung pada kondisi atmosfer, ketersediaan awan potensial, dan dinamika cuaca setempat.
Perbedaan sasaran itu memerlukan ukuran hasil yang berbeda. Perbaikan jarak pandang perlu dibedakan dari tambahan curah hujan, kelembapan gambut, maupun luas kebakaran yang terkendali.
OMC juga perlu berjalan bersama pemeriksaan titik panas, patroli, pembasahan, dan pemadaman darat. Penanganan asap tidak dengan sendirinya menghilangkan sumber api.
Keberhasilan akhirnya perlu terlihat pada kondisi lahan dan keselamatan masyarakat. Jumlah penerbangan serta bahan semai menjelaskan upaya, sedangkan evaluasi menunjukkan hasilnya. ***




Tinggalkan Balasan