Sejarah Peteng bukan sekadar masa lalu Cirebon yang gelap. Istilah ini merekam panasnya sengketa takhta keraton, intervensi kolonial, hingga warisan ajaran Sunan Gunung Jati tentang laku spiritual dan kemanusiaan.

KOSONGSATU.ID-Selama kurang lebih dua abad, historiografi tradisional Cirebon menyimpan satu babak yang terkunci rapat dalam peti rahasia: Sejarah Peteng.

Tabir gelap yang menyelimuti masa lalu ini bahkan mendorong Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Cirebon menyematkan jenama “Cirebon, the Gate of Secret”.

Menyelami Sejarah Peteng tak ubahnya meniti lorong waktu yang memikat sekaligus rawan gesekan. Teks-teks dan narasi lisan peninggalan masa lalu ini tidak hanya merekam silsilah penguasa dan intrik politik berdarah, tetapi juga mewariskan denyut pemikiran, laku spiritual, serta kemanusiaan dari sosok karismatik, Sunan Gunung Jati.

Membongkar Tabir “The Gate of Secret”

Masyarakat Cirebon secara harfiah memaknai Sejarah Peteng sebagai masa lalu yang gelap atau belum terang benderang. Upaya menyingkap lembaran ini acap kali berbenturan dengan keengganan dan rasa ewuh pakewuh (sungkan), lantaran isinya kerap menyinggung pihak-pihak tertentu.

Sejarawan Dr. Nina Herlina Lubis menegaskan bahwa pro dan kontra dalam membuka sejarah ini merupakan hal yang sah. Jika ada keturunan keraton yang menolak narasinya, mereka harus membantahnya secara ilmiah menggunakan fakta dan sumber sejarah yang setara, sehingga sejarah Cirebon yang gelap perlahan menjadi terang benderang.

Pembungkaman sejarah ini nyatanya memiliki akar politis yang panjang. Pangeran Hempi Raja Kaprabon mencatat bahwa pemerintah kolonial Belanda melarang keras penyingkapan sejarah perpecahan Kesultanan Cirebon.

Tradisi penutupan sejarah ini bahkan berlanjut hingga masa Orde Baru karena masyarakat menganggapnya sebagai cerita tabu. Istilah Sejarah Peteng kembali mencuat tajam ketika konflik internal mengguncang Keraton Kasepuhan Cirebon pada 2020.

Tendi (2023) menelaah bagaimana pihak yang berselisih saling lempar narasi sejarah yang belum terverifikasi guna memperebutkan legitimasi silsilah dan aset keraton.

Sengkarut Takhta dan Lahirnya Kaprabonan

Lebih jauh, Sejarah Peteng merekam masa-masa senjakala Kesultanan Cirebon sepeninggal Sunan Gunung Jati. Lemahnya takhta membuat kekuatan eksternal, seperti Kesultanan Mataram dan Kesultanan Banten, leluasa menancapkan kuku pengaruhnya.

Situasi politik ini membelah Kesultanan Cirebon menjadi dua poros: Kasepuhan dan Kanoman. Sengkarut memuncak ketika VOC (kongsi dagang Hindia Belanda) mengintervensi suksesi kepemimpinan di dalam Keraton Kanoman.

Menolak tunduk pada permainan politik VOC, Pangeran Raja Adipati Kaprabon memilih keluar dari Keraton Kanoman pada 1696 dan mendirikan Kaprabonan. Ia menanggalkan ambisi politik dan gelar sultan, lalu memilih jalan sunyi sebagai pendakwah berjuluk Sultan Pandita Agama Tarekat Islam. Namun, roda sejarah terus berputar.

Status Kaprabonan yang mulanya murni sebagai paguron (perguruan) Tarekat Sattariyah perlahan bergeser menuntut pengakuan yang setara dengan Kasepuhan, Kanoman, dan kelak Kacirebonan (berdiri 1808). Pemerintah Residen Cirebon berturut-turut menerbitkan surat pengakuan pada 1946 dan 1976 yang mengukuhkan takhta Sultan Kaprabonan sebagai pemangku adat dan budaya yang sah.

Menyingkap Manuskrip Ajaran Sang Wali

Jejak Pangeran Raja Adipati Kaprabon yang memilih jalan spiritual nyatanya selaras dengan kekayaan batin yang tersimpan dalam manuskrip-manuskrip Sejarah Peteng. Di Kaprabonan, naskah Patarekatan menjadi rujukan utama amalan Tarekat Sattariyah.

Di luar istana, teks-teks tradisional Cirebon juga menyimpan ajaran luhur para leluhur. Eva Nur Arovah dan kawan-kawan (2017) pernah membedah isi teks ini melalui kajian bertajuk Wèwèkas dan Ipat-ipat Sunan Gunung Jati Beserta Kesesuaiannya dengan Al-Qur’an.

Mereka menyelami tembang Pangkur dari naskah Cirebon berjudul Sejarah Rante Martabat Tembung Wali Tembung Carang Satus – Sejarah Ampel Rembesing Madu Pastika Padane. Para peneliti memusatkan perhatian pada wèwèkas (pesan atau nasihat) dan ipat-ipat (larangan yang membawa akibat buruk) yang merujuk langsung pada ajaran Sunan Gunung Jati.

Melalui pembacaan yang tekun, mereka berhasil mengidentifikasi 40 butir nasihat dan larangan yang tidak semata-mata mengurusi ritual keagamaan vertikal, tetapi meluas hingga menata urusan sosial dan keluhuran budi pekerti manusia.

Laku Spiritual dan Kemanusiaan dalam Teks

Nilai-nilai yang terpatri dalam naskah tersebut memperlihatkan kepekaan masyarakat masa lampau terhadap keseimbangan hidup. Pesan dan larangan dari Sunan Gunung Jati mengajarkan manusia untuk merawat laku spiritual, menjaga harmoni sosial, dan mengendalikan hawa nafsu. Teks ini menuntun pembacanya agar membiasakan diri memenuhi kebutuhan jasmani secara proporsional sebagai wujud kemanusiaan yang beradab.

Satu contoh yang paling membumi adalah nasihat agar manusia tidak makan sebelum lapar, tidak minum sebelum haus, dan tidak tidur sebelum mengantuk. Lewat pesan sederhana ini, sang wali menyisipkan gagasan agung tentang pentingnya menahan diri dari laku berlebihan.

Pada akhirnya, Sejarah Peteng berdiri di persimpangan zaman. Di satu sisi, ia merekam perihnya intervensi asing dan sengketa takhta berdarah. Di sisi lain, ia tegak sebagai pusaka historiografi yang tak pernah lelah mengalirkan mata air kearifan tentang laku spiritual dan kemanusiaan bagi generasi penerus di tanah Cirebon.***


Daftar Rujukan:

  • Arovah, E. N., Lubis, N. H., Dienaputra, R. D., & Nugrahanto, W. (2017). Wèwèkas dan Ipat-ipat Sunan Gunung Jati Beserta Kesesuaiannya dengan Al-Qur’an. Patanjala, 9(3), 375–390.
  • Kaprabon, Hempi Raja. (2015). Dinamika Keraton Kaprabonan Cirebon Sejak Masa Kolonial Hingga Masa Republik Indonesia (1696-2015). (Disertasi tidak diterbitkan). Universitas Padjadjaran, Bandung.
  • Tendi. (2023). Antara Sejarah Peteng dan Sejarah Weteng: Mengidentifikasi Objek Sengketa dalam Kisruh Keraton Kasepuhan Cirebon. Jurnal Tamaddun, 11(2).