Bukan sekadar ibadah, perjalanan haji Wali Songo menyimpan kisah kepatuhan, pilihan berat, dan transformasi jiwa yang membentuk Islam di tanah Jawa.


KOSONGSATU.ID — Di sebuah pelabuhan Malaka pada abad ke-15, Sunan Giri dan Sunan Bonang terpaksa menghentikan perjalanan menuju Makkah. Bukan karena badai atau kehabisan bekal, melainkan karena perintah seorang guru yang meminta mereka kembali ke Jawa. Momen itu, sebagaimana dicatat dalam Babad Tanah Jawi, menjadi titik balik dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara.

Ibadah haji, bagi Wali Songo, bukan sekadar rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan. Perjalanan ke Tanah Suci pada masa itu adalah ekspedisi berat yang mempertaruhkan nyawa — berlangsung berbulan-bulan di atas kapal kayu, melintasi samudra, dan berlanjut dengan perjalanan darat melalui padang pasir. Di antara kisah-kisah para wali, perjalanan haji menyimpan sebagian yang paling dramatis: tentang keputusan yang diambil di tengah laut, tentang pilihan antara panggilan pribadi dan tanggung jawab terhadap umat.

Perintah Kembali di Pelabuhan Malaka

Babad Tanah Jawi, sebagaimana dikutip Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo (2016), mencatat bahwa Raden Paku (Sunan Giri) dan Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) pernah bertekad menunaikan ibadah haji sekaligus mendalami ilmu agama di Makkah. Perjalanan mereka terhenti di Malaka, ketika keduanya berjumpa dengan Maulana Ishak — yang dalam riwayat dikenal sebagai ayah kandung Sunan Giri sekaligus saudara Maulana Malik Ibrahim.

Alih-alih melepas kepergian keduanya, Maulana Ishak justru memberikan pengajaran mendalam tentang ilmu keislaman dan tasawuf, sebelum akhirnya meminta mereka kembali ke Jawa. Pesan yang disampaikan tegas: Jawa jauh lebih membutuhkan kehadiran mereka. Sunan Giri dan Sunan Bonang pun membatalkan niat ke Makkah dan kembali ke tanah tempat mereka berdakwah.

Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo (2016) mencatat bahwa di Malaka, Maulana Ishak mengajarkan keduanya ilmu tasawuf — termasuk Tarekat Syathariyah — sebelum memerintahkan mereka pulang. Keputusan ini menempatkan kesiapan spiritual dan tanggung jawab dakwah di atas hasrat pribadi menunaikan haji.

Sunan Kalijaga: Memilih Tetap di Jawa

Serat Kandhaning Ringgit Purwa, sebagaimana dikutip Agus Sunyoto dalam Walisongo: Sejarah yang Disingkirkan (2019), merekam pertemuan Sunan Kalijaga dengan Maulana Maghribi ketika singgah di Malaka dalam perjalanan menuju Makkah. Maulana Maghribi memintanya kembali ke Jawa, dengan alasan bahwa iman masyarakat Jawa yang baru mengenal Islam saat itu masih rapuh — terutama di tengah transisi Kerajaan Demak yang belum kokoh.

Maulana Maghribi juga menyampaikan pesan yang lebih dalam: bahwa “Makkah sejati” ada di dalam diri sendiri, sementara Baitullah di jazirah Arab hanyalah peninggalan fisik Nabi Ibrahim AS. Bagi Sunan Kalijaga, pesan itu menjadi landasannya untuk memilih tetap berdakwah di Jawa.

Versi lain, terekam dalam Suluk Linglung, mengisahkan bahwa yang menghentikan perjalanan Sunan Kalijaga adalah Nabi Khidir AS di tengah laut. Nabi Khidir menasihatinya agar tidak melanjutkan perjalanan ke Makkah bila belum memahami sepenuhnya makna ibadah yang akan dilaksanakan. Kedua versi, meski berbeda dalam nama tokoh, menyampaikan satu inti yang sama: kesiapan batin mendahului kehadiran jasmani.

Syarif Hidayatullah: Menuntut Ilmu Hingga ke Tanah Suci

Di antara para wali, Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) dikenal sebagai sosok yang menempuh perjalanan paling jauh untuk menuntut ilmu. Sejumlah sumber historis mencatat bahwa pada usia sekitar dua puluh tahun, Syarif Hidayatullah berangkat ke Makkah untuk berguru kepada ulama-ulama Tanah Suci. Perjalanan itu merupakan bagian dari pengembaraan panjang selama lebih dari satu dekade — melalui Pasai, Gujarat, dan berbagai pusat keilmuan Islam di Timur Tengah, termasuk Mesir dan Baghdad.