Di utara Sungai Brantas, Desa Losari, Kecamatan Ploso, Jombang, Ramadan 2026 menghadirkan pemandangan yang tak biasa: ratusan warga, santri, dan musafir berjejal saban petang di bawah kubah bergaya Asia Tengah milik Masjid Raya Fatchan Mubiina Chaddun ‘Adhim.
KOSONGSATU.ID—Bukan sekadar buka puasa, melainkan sebuah peristiwa sosial yang pelan-pelan menjelma magnet baru di Jombang.
Di antara pilar-pilar tinggi dan ornamen muqarnas yang rumit, suasana berbuka di masjid ini seperti menyatukan dua lanskap: Samarkand yang jauh di Asia Tengah dan kampung-kampung di tepian Brantas yang akrab dengan tradisi gotong royong.

Arsitektur Uzbekistan di Jantung Jawa
Masjid ini bukan bangunan yang lahir tanpa visi. Peletakan batu pertamanya dilakukan pada 22 Oktober 2022 oleh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Kiai Moch. Muchtar Mu’thi. Sejak awal, rancangan masjid diarahkan untuk menjadi ikon baru—bukan hanya bagi pesantren, tetapi bagi Indonesia.
Struktur muqarnas—ornamen menyerupai sarang lebah yang menjadi ciri arsitektur Islam klasik Asia Tengah—menciptakan ilusi visual yang memikat. Pengunjung yang melangkah ke dalamnya kerap merasa seolah berada di Bukhara atau Samarkand, meski kenyataannya mereka berdiri di Losari, Jombang.
Teknologi kubah GRC berstandar Eropa memperkuat kesan megah itu, menegaskan bahwa pesantren ini tidak setengah hati dalam membangun simbol.
Namun kemegahan arsitektur itu tidak berhenti pada estetika. Ia seperti dirancang untuk menjadi panggung bagi perjumpaan sosial—ruang luas tempat ratusan orang bisa duduk berderet, menanti azan Magrib dalam suasana teduh.

Dapur Umum dan Energi Gotong Royong
Setiap sore, aktivitas di sekitar masjid bergerak seperti orkestra yang terlatih. Di dapur umum, ibu-ibu warga Shiddiqiyyah sibuk meracik hidangan. Aroma sayur, nasi, dan takjil sederhana menyatu dengan suara sendok dan wajan.




Tinggalkan Balasan