Thoriqoh Shiddiqiyyah lestarikan identitas teologis unik melalui tradisi Malam Pitulasan.
KOSONGSATU.ID–Setiap kelompok agama memiliki cara tersendiri untuk merawat tradisi dan ajaran luhur mereka. Bagi jamaah Thoriqoh Shiddiqiyyah, konsistensi pelaksanaan “Malam Pitulasan” pada 17 Ramadan berfungsi sebagai tameng pelestarian identitas teologis.
Acara yang dipusatkan di Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah, Desa Losari, Ploso, Jombang ini, menjadi momen pembeda yang mempertegas karakteristik mereka dibandingkan dengan tarekat lain di Indonesia.
Identitas ini mengakar kuat pada tafsir spesifik terkait peristiwa Nuzulul Qur’an atau turunnya Al-Quran di bulan Ramadan. Jamaah diajarkan oleh Mursyid mereka, Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi, untuk membedakan dua malam krusial di bulan suci.
Mereka memegang teguh keyakinan bahwa 17 Ramadan adalah Laylatu al-Mubarakah, momen wahyu pertama turun dari langit dunia ke Nabi Muhammad Saw. di Gua Hira. Secara presisi, mereka juga meyakini bahwa Laylatu al-Qadr—turunnya Al-Qur’an utuh dari Lauhul Mahfuz—jatuh pada malam 27 Ramadhan.
Kekhasan pandangan ini menarik perhatian dunia akademis.
Peneliti UIN Sunan Ampel Surabaya, Rizqa Ahmadi, melalui studinya (2019/2021) merangkum fenomena tersebut. “Misalnya pada malam 17 Ramadhan yang difahami sebagai laylatu al-mubarakah dan 27 Ramadhan adalah malam laylatu al-qadr. Laylatu al-Mubarakah merupakan peristiwa turunnya al-Qur’an dari Bayt al-‘izzah kepada Nabi berupa wahyu yang pertama,” catat Rizqa dalam risetnya.
Dzikir dan Dampak Sosial Ekonomi
Pelestarian identitas ini diwujudkan melalui praktik ibadah yang masif. Ribuan jamaah dari seluruh pelosok Tanah Air rutin melakukan perjalanan (sowan) ke Jombang.
Sesampainya di lokasi, setelah salat Isya dan Tarawih, mereka mempraktikkan pengajian akbar. Seluruh jamaah duduk bersila, melantunkan ayat suci, dan masuk pada ritual dzikir jahar. Mereka melafalkan kalimat tauhid dengan keras sembari menggerakkan kepala sesuai adab tarekat.
Selain merawat identitas, kumpulnya ribuan massa ini memberikan dampak jangka pendek yang nyata bagi masyarakat Jombang. Perputaran roda ekonomi lokal di sektor UMKM, transportasi, dan penginapan melonjak drastis selama pertengahan bulan puasa.
Acara ditutup dengan siraman rohani kebangsaan dari K.H. Mukhtar Mu’thi. Sang Mursyid senantiasa mengingatkan, “Kemerdekaan Indonesia belumlah sempurna apabila di dalam diri umat, utamanya para pemimpin bangsa masih mengedepankan hawa nafsu,” (Arsip Liputan6). Perpaduan ritual agama dan kritik moral ini menjadikan Malam Pitulasan tak tergantikan.*




0 Komentar