Potensi ekonomi transisi energi sebenarnya besar. Manufaktur surya, angin, dan baterai diproyeksikan bernilai Rp8.824 triliun pada 2060 — hulu baru yang belum serius digarap.

Tidak ada yang mengusulkan kita kembali ke ladang berpindah untuk menggantikan PLTU. Yang perlu ditiru adalah prinsipnya: diversifikasi, bukan bertumpu pada satu sumber rapuh.

Filosofi Tri Hita Karana tidak bicara soal berhenti memakai alam. Ia bicara relasi yang saling bertanggung jawab — alam memberi, manusia merawat keberlangsungannya.

Ketika relasi itu putus, bukan alam yang menanggung sendirian. Kita semua ikut membayar — lewat listrik yang padam, dan APBN yang harus dijaga agar tidak jebol.

Pertanyaannya bukan apakah kita perlu energi. Pertanyaannya: dengan cara apa kita menjaga hulu agar aliran tidak berhenti? Leluhur di Sumbawa sudah menuliskan jawabannya, jauh sebelum kita punya kata “krisis energi” untuk menamainya.***


Daftar Rujukan

  • Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KNIU) — Manifestasi Filosofi Tri Hita Karana dalam Sistem Subak Bali sebagai Warisan Dunia.
  • Jurnal Penelitian Humaniora, UNY — Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Baduy.
  • Pojok Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) — Peran Masyarakat Adat Menghadapi Perubahan Iklim.
  • Institute for Essential Services Reform (IESR) — IESR Pertanyakan Keandalan Sistem Kelistrikan Jawa dan Mendesak Investigasi Transparan Gangguan Listrik, 11 Juni 2026.
  • Institute for Essential Services Reform (IESR) — Pengembangan Industri Manufaktur Energi Terbarukan Mempunyai Potensi Ekonomi Hingga Rp8.824 Triliun di 2060.
  • Kompaspedia (Kompas.id) — Minyak Bumi Dalam Negeri: Produksi, Impor, dan Perkembangan Harga BBM.