Di bawah Bukit Selong, tujuh rumah kayu berdiri seperti halaman terakhir dari sebuah buku tua. Sebagian atap ilalangnya mulai menipis, pagar bambunya lapuk, tetapi jejak pemukiman awal masyarakat Sembalun itu kini mendapat pengakuan baru: tanah tempatnya berdiri resmi ditetapkan sebagai tanah ulayat.
KOSONGSATU.ID — Udara dingin Sembalun Lawang menyambut siapa pun yang memasuki Bale Beleq, kompleks rumah adat di kaki Gunung Rinjani, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Di antara perbukitan hijau dan kebun warga, enam bangunan rumah adat masih berdiri di dalam kawasan yang oleh masyarakat setempat diyakini dahulu dihuni tujuh keluarga pendiri. Satu bangunan lain telah hilang dimakan usia.
Rumah-rumah itu tidak besar. Dindingnya dari anyaman bambu, atapnya ilalang, dan lantainya ditinggikan dari tanah. Namun, dari susunan sederhana itulah tersimpan cerita tentang perpindahan penduduk, letusan gunung, pembagian ruang keluarga, hingga aturan adat yang membuat jumlah rumah di kompleks itu tidak boleh bertambah.
“Sejarahnya, tujuh kepala keluarga mendirikan Desa Beleq dengan membangun tujuh rumah di sana,” kata Yamni, warga Sembalun.
Menurut cerita yang diwariskan warga, setiap rumah dibangun dari satu pohon utuh tanpa mencampurkan kayu dari pohon lain. Keturunan keluarga pendiri yang ingin membangun rumah baru tidak diperbolehkan mendirikannya di dalam kompleks Bale Beleq.
Mereka harus membangun hunian di luar kawasan adat. Dari perpindahan itulah, menurut penuturan masyarakat, kemudian tumbuh permukiman baru di sekitar Sembalun.
Desa Tua di Bayang-Bayang Samalas
Nama Beleq dalam bahasa Sasak lazim dipahami sebagai “besar”. Namun, bagi masyarakat Sembalun, kata itu juga memiliki arti lain: tua.
Martawi, tokoh adat Sembalun Lawang, menyebut Bale Beleq sebagai salah satu titik awal pemukiman masyarakat di wilayah Sembalun. Dalam ingatan kolektif warga, kompleks itu bukan sekadar kumpulan rumah tradisional, melainkan penanda asal-usul kampung.
“Desa Beleq berarti desa tua, bukan desa besar,” kata Martawi.
Kisah Bale Beleq kerap dihubungkan dengan letusan Samalas pada 1257. Erupsi gunung purba di Kompleks Rinjani itu memang tercatat dalam kajian ilmiah sebagai salah satu letusan terbesar dalam periode sejarah, dengan dampak material vulkanik yang menjangkau jauh melampaui Lombok.
Penelitian ilmiah menemukan bahwa erupsi Samalas pada 1257 menghasilkan jejak sulfur besar pada inti es di kutub dan berkaitan dengan pendinginan global pada paruh kedua abad ke-13. Kajian lain menempatkan peristiwa itu sebagai salah satu letusan terbesar dalam sekitar 7.000 tahun terakhir.
Namun, hubungan langsung antara erupsi tersebut dan pendirian tujuh rumah Bale Beleq tetap berada dalam ranah sejarah lisan masyarakat. Catatan ilmiah mengenai Samalas dapat menjelaskan skala bencana, tetapi belum dengan sendirinya membuktikan kronologi keluarga-keluarga pendiri Bale Beleq.
Di situlah nilai situs ini berada. Bale Beleq bukan museum dengan label lengkap pada setiap artefak. Ia adalah ruang hidup yang bertahan melalui gabungan jejak material, adat, dan cerita yang dipelihara dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Rumah yang Dibangun untuk Cuaca dan Tata Krama
Arsitektur Bale Beleq berbeda dari sebagian rumah Sasak di Lombok bagian selatan yang kerap dikenal dengan bentuk atap melengkung rendah.
Rumah-rumah di Sembalun Lawang berbentuk memanjang dengan lantai sekitar satu meter dari permukaan tanah. Ketinggian itu membantu penghuni menghadapi udara lembap, hujan, serta kemungkinan masuknya hewan dari luar rumah.
Pintu masuknya dibuat rendah. Siapa pun yang hendak masuk harus menundukkan badan.
Bagi masyarakat setempat, rancangan itu bukan sekadar soal ukuran bangunan. Menunduk dipahami sebagai tanda hormat kepada pemilik rumah, tamu lain, dan Sang Pencipta.
Tiang utama menggunakan kayu lokal yang dikenal warga sebagai suren ritip. Dinding dibuat dari anyaman bambu, sedangkan atap dibentuk dari lapisan ilalang yang disusun rapat untuk mengurangi kebocoran saat hujan dan menjaga suhu di tengah hawa dingin Sembalun.
Lantai tanah liat di dalam rumah juga dirawat dengan campuran kotoran sapi. Praktik ini masih dikenal di sejumlah kampung tradisional Sasak, termasuk pada rumah adat di kawasan Sembalun. Bahan tersebut dipakai untuk memadatkan lantai dan membantu menjaga kondisi ruang tetap hangat.
Ruangan dalam rumah terbagi menjadi dua bagian utama. Bagian depan menjadi tempat menerima tamu dan ruang berkumpul anggota keluarga laki-laki.




Tinggalkan Balasan