Kisah Bale Beleq kerap dihubungkan dengan letusan Samalas pada 1257. Erupsi gunung purba di Kompleks Rinjani itu memang tercatat dalam kajian ilmiah sebagai salah satu letusan terbesar dalam periode sejarah, dengan dampak material vulkanik yang menjangkau jauh melampaui Lombok.
Penelitian ilmiah menemukan bahwa erupsi Samalas pada 1257 menghasilkan jejak sulfur besar pada inti es di kutub dan berkaitan dengan pendinginan global pada paruh kedua abad ke-13. Kajian lain menempatkan peristiwa itu sebagai salah satu letusan terbesar dalam sekitar 7.000 tahun terakhir.
Namun, hubungan langsung antara erupsi tersebut dan pendirian tujuh rumah Bale Beleq tetap berada dalam ranah sejarah lisan masyarakat. Catatan ilmiah mengenai Samalas dapat menjelaskan skala bencana, tetapi belum dengan sendirinya membuktikan kronologi keluarga-keluarga pendiri Bale Beleq.
Di situlah nilai situs ini berada. Bale Beleq bukan museum dengan label lengkap pada setiap artefak. Ia adalah ruang hidup yang bertahan melalui gabungan jejak material, adat, dan cerita yang dipelihara dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Rumah yang Dibangun untuk Cuaca dan Tata Krama
Arsitektur Bale Beleq berbeda dari sebagian rumah Sasak di Lombok bagian selatan yang kerap dikenal dengan bentuk atap melengkung rendah.
Rumah-rumah di Sembalun Lawang berbentuk memanjang dengan lantai sekitar satu meter dari permukaan tanah. Ketinggian itu membantu penghuni menghadapi udara lembap, hujan, serta kemungkinan masuknya hewan dari luar rumah.
Pintu masuknya dibuat rendah. Siapa pun yang hendak masuk harus menundukkan badan.
Bagi masyarakat setempat, rancangan itu bukan sekadar soal ukuran bangunan. Menunduk dipahami sebagai tanda hormat kepada pemilik rumah, tamu lain, dan Sang Pencipta.
Tiang utama menggunakan kayu lokal yang dikenal warga sebagai suren ritip. Dinding dibuat dari anyaman bambu, sedangkan atap dibentuk dari lapisan ilalang yang disusun rapat untuk mengurangi kebocoran saat hujan dan menjaga suhu di tengah hawa dingin Sembalun.


Tinggalkan Balasan