Jauh sebelum dunia dipenuhi pemburu angka pengikut dan pencitraan digital, Al-Ghazali telah merumuskan bahaya spiritual dari kepalsuan topeng fisik yang melumpuhkan kejujuran jiwa.
KOSONGSATU.ID — Pernahkah Anda membuka media sosial hari ini dan merasa langsung dibombardir oleh pamer kemewahan, pencapaian karier yang luar biasa, hingga kehidupan pribadi yang tampak tanpa cela? Di era digital, popularitas bukan lagi sekadar dampak dari sebuah karya, melainkan telah bergeser menjadi komoditas utama yang diburu.
Kita menyaksikan masyarakat modern terjebak dalam pusaran perburuan jumlah pengikut, pelanggan, dan akumulasi tombol suka demi mendapatkan satu hal: validasi semu. Demi menjaga agar topeng digital ini tetap berkilau, banyak orang rela mengorbankan ketenangan batin, keaslian diri, hingga menguras energi finansial.
Fenomena kecanduan popularitas dan pencitraan ini terasa sangat modern. Namun, jika kita menengok kembali khazanah tasawuf klasik lewat kitab Misykatul Anwar karya Imam Abu Hamid al-Ghazali, kita akan menemukan bahwa problem spiritual ini sebenarnya telah dibedah secara mendalam sejak seribu tahun yang lalu.
Dalam kitab tersebut, Al-Ghazali membahas sebuah hadis tentang 70 hijab atau penghalang yang memisahkan manusia dengan Sang Mahacahaya. Hijab-hijab ini secara garis besar terbagi menjadi tiga kategori besar: Hijab Kegelapan Murni, Hijab Cahaya yang Bercampur Kegelapan, dan Hijab Cahaya Murni.
Bagi para pemburu pencitraan, pelaku pamer kemewahan, dan mereka yang hidupnya didikte oleh angka-angka media sosial, Al-Ghazali memasukkan mereka ke kelompok pertama. Mereka adalah golongan orang-orang yang terhijab oleh Kegelapan Murni.
Mengapa perbudakan terhadap materi dan pencitraan masuk dalam kategori kegelapan yang paling pekat? Al-Ghazali menjelaskan bahwa esensi dari kegelapan adalah ketiadaan atau ketidakmampuan jiwa untuk menangkap kebenaran sejati.
Ketika seseorang menghabiskan seluruh hidupnya untuk membangun reputasi fisik yang artifisial, jiwa mereka tergilas oleh hasrat rendah yang memburu kelezatan duniawi. Di era digital, syahwat ini mewujud dalam bentuk kecanduan pengakuan dari sesama manusia.




Tinggalkan Balasan