Konsep maritim yang diusung pemerintah dinilai masih militeristik dan bias daratan. Akademisi menawarkan paradigma baru agar warga pesisir menjadi subjek utama.

KOSONGSATU.ID – Melani Budianta, Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) sekaligus Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), menilai istilah maritim yang kerap digaungkan negara cenderung dipahami melalui pendekatan militeristik yang terpusat. Akibatnya, laut lebih sering diperlakukan sebagai ruang yang harus dikendalikan oleh kekuasaan ketimbang menjadi ruang hidup bagi masyarakat kepulauan.

Hal itu terungkap dalam lokakarya internasional Doing Critical Island Studies in Southeast Asia hasil kerja sama Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PRMLTL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan FIB UI di Jakarta, Senin, 13 Juli 2026. Forum ini menyoroti ketimpangan akses, reklamasi, hingga penggusuran ruang hidup masyarakat pesisir.

“Istilah maritim cenderung bersifat militeristik dan berorientasi pada kekuasaan negara yang terpusat,” kata Melani.

Sebagai gantinya, ia menawarkan konsep bahari. Pendekatan ini menempatkan masyarakat pesisir sebagai subjek utama dan memandang laut sebagai ruang bersama (commons) untuk dikelola secara demokratis oleh komunitas lokal.

Ihwal ketimpangan pembangunan, Melani menyoroti paradoks konektivitas. Dalam banyak kasus, warga dari satu pulau harus terbang ke Jakarta terlebih dahulu hanya untuk mencapai pulau tetangganya, sebuah bukti bahwa logika pembangunan masih berorientasi pada pusat daratan.

Paradigma Pola Pikir Kepulauan

Selain kritik terhadap orientasi maritim, forum akademis ini juga menawarkan pergeseran paradigma global. Toshiya Ueno, Profesor dari Wako University Jepang, memperkenalkan konsep archipelagic thinking atau pola pikir kepulauan sebagai kritik atas cara berpikir kontinental yang eksploitatif.

“Berpikir kontinental cenderung ingin memahami dunia secara total dan mendominasi,” kata Ueno. Sebaliknya, pola pikir kepulauan melihat dunia sebagai jaringan yang saling terhubung, menghargai keberagaman, dan membuka ruang kolaborasi.