Al-Ghazali mengibaratkan manusia yang terperangkap dalam gelombang pencitraan ini seperti kaca lampu minyak yang ditutupi oleh jelaga hitam pekat. Potensi cahaya spiritual di dalam dirinya tetap ada, namun sinarnya terhalang oleh tebalnya kotoran topeng fisik yang ia bangun sendiri.

Ilusi Popularitas Digital dan Puncak Kontras Hijab Cahaya

Lebih jauh lagi, Al-Ghazali menyentuh kelompok spesifik yang sangat relevan dengan fenomena pemengaruh digital saat ini. Mereka adalah orang-orang yang merasa bahagia semata-mata karena memiliki banyak pengikut yang mengagumi mereka.

Mereka terjebak pada ilusi bahwa popularitas adalah sumber kebahagiaan sejati. Ketika fokus hidup bergeser hanya untuk menyenangkan mata manusia dan memamerkan eksistensi lahiriah, mata batin mereka otomatis terpejam. Mereka lupa pada kebutuhan dasar rohaninya sendiri.

Sebagai kontras, Al-Ghazali menyebutkan adanya Hijab Cahaya Murni. Hijab ini dialami oleh para pemikir yang sudah berhasil lolos dari jebakan materi duniawi, namun terhijab karena menganggap perantara intelektual atau makhluk rohani yang indah sebagai tujuan akhir.

Kontras ini menunjukkan sebuah kritik sosial yang menohok. Saat sebagian manusia berjuang menembus batas spiritualitas yang tinggi, pemburu pencitraan justru memilih untuk menjatuhkan diri sedalam-dalamnya ke dalam dasar Kegelapan Murni yang melelahkan.

Menjadi manusia digital hari ini berarti hidup di antara dua tarikan. Ada daya tarik bumi yang menyeret kita ke bawah lewat tumpukan materi, serta daya tarik spiritual yang menarik jiwa kita naik menuju ketenangan hakiki.

Agar tidak kehilangan hakikat diri yang asli, kita memerlukan sebuah langkah nyata berupa detoks digital sufistik modern. Langkah pertama adalah melatih puasa validasi lahiriah.

Cobalah mengunggah sesuatu tanpa perlu memeriksa jumlah penyuka atau komentar, atau menepi sejenak dari media sosial. Gunakan waktu tersebut untuk melatih refleksi diri demi mengenali siapa kita sebenarnya saat kamera ponsel dimatikan.

Langkah berikutnya adalah menyeimbangkan aspek lahir dan batin. Di dunia digital, gunakan perangkat gawai secukupnya sebagai alat komunikasi praktis, namun jaga agar hati tetap tertambat pada substansi nilai-nilai kejujuran, kerendahan hati, dan ketenangan spiritual.