Hamka, Baso, dan Upaya Merestorasi Sejarah
Cendekiawan besar Nusantara seperti Buya Hamka dan Ahmad Baso tak tinggal diam. Hamka, dalam berbagai tulisan dan seminar, menolak mentah-mentah teori Snouck. Ia menyodorkan bukti-bukti konkret dari sumber Tiongkok dan makam tua di Barus, yang menjelaskan bahwa Islam masuk langsung dari Arab, bahkan sejak masa Khalifah Usman bin Affan.
Bagi Hamka, Gujarat hanyalah tempat singgah. Islam datang bukan dengan motif niaga, tapi murni sebagai syiar, dibawa oleh para wali keturunan Nabi. Teori Snouck, menurutnya, hanyalah manipulasi orientalis untuk menutupi kenyataan sejarah: bahwa hubungan Islam-Arab dan Nusantara jauh lebih tua dan dalam dibanding klaim kaum kolonial.
Ahmad Baso memperkuat gugatan itu. Dalam bukunya Islamisasi Nusantara, Baso menolak pendekatan sejarah berbasis batu nisan yang banyak dijadikan pegangan orientalis. Ia menegaskan bahwa teks dan hikayat asli Nusantara jauh lebih sahih dan penuh makna.
Baso menelusuri jejak Islam dari masa Khalifah Usman bin Affan, kehadiran orang Quraisy di pelabuhan-pelabuhan Asia Tenggara, hingga kedatangan Wali Songo di abad ke-14. Ia menyusun ulang narasi, bukan dengan asumsi kolonial, tapi dengan metode filologi dan kebanggaan intelektual Muslim Nusantara.
Snouck, Hadlramaut, dan Ketakutan Kolonial
Snouck tahu benar: para imigran Hadlramaut adalah ancaman nyata bagi Belanda. Mereka tidak hanya berdagang, tapi juga berdakwah.
Dalam pidatonya yang dikutip Syakib Arslan, Snouck mengeluhkan kegagalan Belanda mengekang para pendakwah Hadlramaut. Mereka menyebarkan Islam dengan tekun, dan membuat Belanda takut akan tekanan dari dunia Islam internasional—terutama Khilafah Turki.
Dari sinilah terlihat: Islam bukan hanya soal teologi, tapi kekuatan geopolitik. Dan karena itulah sejarahnya harus diganggu, disusupi, dipelintir. Di sinilah Snouck memainkan perannya: bukan sebagai akademisi objektif, tapi propagandis berkedok ilmuwan.
Ironisnya, hingga kini banyak kalangan akademik Indonesia masih menjadikan Snouck sebagai rujukan utama sejarah Islam. Seolah ia lebih tahu daripada para ulama, wali, dan sejarawan lokal yang hidup di tanah yang sama, menghirup udara yang sama, dan mewarisi sejarah itu secara langsung. Ini seperti belajar memasak dari tukang kayu.
Sudah saatnya kita menggugat dominasi narasi orientalis dalam sejarah Islam Nusantara. Ilmu pengetahuan bukan dogma. Teori Snouck bukan wahyu. Maka ia harus terbuka terhadap kritik—terutama dari orang-orang yang benar-benar mewarisi sejarah itu, bukan yang sekadar mengamatinya dari balik kacamata kolonial.




Tinggalkan Balasan