Wacana pembatasan kadar nikotin maksimal satu miligram per batang berisiko memukul petani. Adaptasi varietas tembakau lokal diprediksi membutuhkan waktu puluhan tahun.
KOSONGSATU.ID – Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Setiari Marwanto menyatakan wacana pembatasan kadar nikotin maksimal 1 miligram per batang berpotensi membuat tembakau lokal tidak terserap industri. Kebijakan ini dinilai akan memunculkan gejolak jika diterapkan terburu-buru.
“Karena itulah dalam rapat koordinasi sebelumnya disepakati agar kebijakan yang bersentuhan langsung dengan tembakau petani ditunda terlebih dahulu sampai semuanya benar-benar dipastikan aman,” kata Setiari dalam keterangan tertulis, Senin, 10 Agustus 2026.
Ihwal kandungan nikotin, Setiari menjelaskan rata-rata tembakau lokal memiliki kadar alami di atas 2 persen. Data ini merujuk pada 1.200 lebih koleksi plasma nutfah tembakau lokal di lembaganya. Perubahan karakteristik tanaman tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.
“Padahal kadar nikotin sendiri sangat dipengaruhi banyak faktor karena unsur utamanya berkaitan dengan nitrogen,” kata Setiari. Ia menambahkan, variabel lingkungan seperti pupuk hingga pemilihan varietas sangat menentukan.
Butuh Transisi 30 Tahun
Ketua Kelompok Tanaman Semusim Direktorat Tanaman Semusim Kementerian Pertanian Yudi Wahyudi menegaskan perlunya masa transisi yang panjang. Peneliti membutuhkan waktu hingga 30 tahun untuk merakit varietas rendah nikotin yang tahan terhadap iklim tropis.
“Kementerian Pertanian tidak dilibatkan secara menyeluruh dalam pembahasan ini karena rancangan aturan ini berlandaskan pada mandat undang-undang kesehatan aspek hilir konsumsi, tanpa berpijak pada undang-undang pertanian di aspek hulu produksi,” ujar Yudi.
Sebelumnya, wacana aturan yang mencontoh regulasi luar negeri ini membatasi 1 miligram nikotin dan 10 miligram TAR per batang. Penurunan drastis tersebut dinilai mengancam keanekaragaman hayati tembakau lokal Indonesia.
Selain itu, Yudi merinci tembakau lokal seperti Kemloko di Temanggung dan Mole di Jawa Barat terbentuk oleh faktor tanah vulkanik dan paparan sinar matahari. Tanaman ini memiliki kadar nikotin alami pada kisaran 3 hingga 8 miligram per batang.




Tinggalkan Balasan