Sejarah tak pernah netral. Apalagi jika ditulis oleh penjajah. Lewat teori-teori “ilmiah” ala Snouck Hurgronje, penjajahan tak hanya merampas tanah, tapi juga mencangkul akar sejarah Islam dari tubuh Nusantara.
KOSONGSATU.ID—Snouck Hurgronje dikenal sebagai orientalis ulung, ahli strategi penjajahan, dan arsitek intelektual pembelokan sejarah Islam di Nusantara. Ia tidak hanya mengamati, tetapi juga merancang narasi, membingkai sejarah agar cocok dengan kepentingan penjajah: bahwa Islam datang ke Indonesia bukan dari tanah Arab, melainkan dari India Selatan, dibawa pedagang, bukan pendakwah, dan dengan itikad ekonomi, bukan ruh dakwah.
Teori itu bukan sekadar soal asal-muasal, tapi tentang upaya mengikis legitimasi spiritual dan politik umat Islam di bumi Nusantara. Sebab, dalam benak Snouck, yang ia lawan bukan Islam sebagai agama, melainkan sebagai kekuatan politik. Dan dalam politik, sejarah adalah medan pertempuran utama.
Mengutip Milan Kundera: “Untuk menghancurkan martabat suatu bangsa, cukup hancurkan sejarahnya.” Maka, Snouck pun mulai menyusun narasi akademis untuk menjauhkan umat Islam dari kebesaran sejarah mereka sendiri.
Ia menetapkan abad ke-13 sebagai titik masuk Islam di Nusantara, mengesampingkan bukti-bukti otentik bahwa Islam telah mengakar jauh sebelum itu—bahkan sejak abad ke-7 M.
Teori Gujarat dan Kepentingan Kolonial
Dalam karya-karyanya, Snouck mengembangkan teori Gujarat: Islam masuk ke Nusantara dari India, bukan dari Arab. Ia mengklaim Islam di Nusantara merupakan versi “turunan”, sudah bercampur dengan Hindu, dan karenanya tak murni. Pendakwahnya bukan sahabat Nabi Muhammad Saw. atau ulama Hijaz, tapi pedagang lapis kedua dari Malabar dan Coromandel.
Kata Snouck, kedatangan para pedagang India inilah yang membawa Islam ke Sumatera dan Jawa, yang kemudian baru diikuti oleh para Arab Hadlramaut. Motif mereka, menurut Snouck, lebih karena perdagangan ketimbang penyebaran agama.
Namun, betapa dangkalnya teori itu jika dibandingkan dengan sumber-sumber primer yang diabaikan Snouck—baik naskah-naskah kuno Nusantara, prasasti, hingga catatan Dinasti Tang dari Tiongkok yang menyebut pemukiman Muslim di Barus sudah ada sejak tahun 625 M.




Tinggalkan Balasan