Mengembalikan Akar Sejarah

Menyusun kembali sejarah Islam Nusantara bukan sekadar soal akademik, tapi soal harga diri. Kita tak bisa membiarkan sejarah kita ditulis sepihak oleh tangan penjajah, apalagi yang menganggap kita sebagai objek, bukan subjek sejarah.

Melawan teori Snouck Hurgronje bukan berarti anti-ilmu. Justru inilah bentuk paling luhur dari berpikir kritis: menolak tunduk pada narasi yang disusun demi kepentingan kekuasaan.

Sejarah adalah cermin masa depan. Dan cermin yang retak hanya akan membiaskan wajah kita sendiri.***