Kiai Syuhada di Ploso dan Kiai Sanusi di Kabuh bukan sekadar ulama kampung. Mereka menanam pondasi keilmuan, spiritualitas, dan tradisi ziarah yang menghidupi identitas Jombang hingga kini.
KOSONGSATU.ID—Jombang kerap dijuluki “kota santri”. Dan di balik nama besar pesantren modern di Jombang masa kini, ada dua figur leluhur yang membentuk pondasi awal sehingga julukan itu melekat pada wilayah tersebut: Kiai Ahmad Syuhada di Ploso dan Kiai Ahmad Sanusi Tamriz Abdul Ghofar di Kabuh.
Dua nama ini jadi poros ziarah, sumber inspirasi, dan penanda bagaimana Islam tumbuh di sekitaran Sungai Brantas. Makam keduanya rutin dikunjungi peziarah tiap bulan Robi’ul Awwal tiba–yang tahun ini jatuh pada pertengahan Agustus – pertengahan September 2025.
Kiai Syuhada: Dari Perang Diponegoro ke Kedungturi
Berbagai penelitian menyebut, nama Kiai Syuhada tak bisa dilepaskan dari catatan Perang Jawa (1825–1830). Para peneliti yakin ia ikut serta berjuang bersama barisan Pangeran Diponegoro. Setelah perang usai, Kiai Syuhada memilih jalur pendidikan dengan mendirikan Pesantren Kedungturi di Desa Losari, Ploso.
Ia mengubah lahan rawa menjadi pusat keilmuan agama. Dari sinilah masyarakat sekitar bertransformasi dari masyarakat abangan menjadi komunitas santri. Kajian akademik Universitas Airlangga menyebut, Kedungturi berdiri di Ploso dan diteruskan hingga generasi Kiai Muchammad Muchtar Mu’thi.
Kiai Syuhada wafat pada 12 Mei 1905 atau 7 Rabiul Awal 1323 H). Makamnya kini berada di kompleks Pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, Ploso. Ziarah ke pusaranya menjadi napak tilas sejarah tarekat Shiddiqiyyah.
Kiai Sanusi: Ruh Tarekat Syattariyah di Kabuh
Di bagian utara aliran Brantas, tepatnya di Dusun Sekaru, Kabuh, nama Kiai Ahmad Sanusi Tamriz Abdul Ghofar atau Mbah Sanusi dikenal sebagai tokoh penyebar Tarekat Syattariyah. Sebuah dokumen penelitian dari UIN SATU Tulungagung mencatat, awal mula Syattariyah di Kauman Kabuh berangakat dari kiprahnya.
Makamnya kini menjadi bagian Taman Thoriqoh Shiddiqiyyah. Tradisi haul rutin digelar di sini.
Ada pula kisah unik yang menjadi pelengkap sepak terjang sang kiai: pohon Kenongo Cino, yang diyakini sebagai simbol niat suci Mbah Sanusi. Akarnya kerap dibawa jemaah hingga tersebar ke berbagai daerah, untuk diambil keteladanan dan berkahnya—sebagaimana ditulis Ophidmedia.net.
Dua Poros Ziarah Shiddiqiyyah
Makam Kiai Syuhada di Ploso dan Kiai Sanusi di Kabuh sering disebut sebagai “dua poros leluhur” dalam tradisi ziarah Shiddiqiyyah. Jemaah lokal dan peziarah dari luar daerah rutin datang untuk ‘ngalap berkah’.
Narasi internal Shiddiqiyyah menempatkan mereka dalam satu garis genealogis: Kiai Sanusi bisa dikatakan masih terhitung kakek buyut Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah, Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi, dari jalur ibu. Kiai Sanusi adalah sepupu dari Kiai Zamrozi, kakek dari Ibu Nyai Nasikhah, ibu Syekh Muchtar. Sedangkan Kiai Syuhada adalah pendiri Kedungturi, yang merupakan kakek Syekh Muchtar dari garis ayah.
Keduanya diyakini membentuk identitas spiritual Jombang.




Tinggalkan Balasan