Ketiga, jalan pribumisasi Islam. Istilah ini berkembang kuat dalam pemikiran Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang melihat Islam dapat berakar dalam kebudayaan lokal tanpa harus kehilangan prinsip dasarnya.
Tiga jalan itu tidak selalu hidup dalam bentuk yang rapi. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa memakai bahasa Jawa, mengikuti pengajian, menghadiri slametan, membaca shalawat, dan tetap berbeda pandangan soal mana tradisi yang perlu dijaga atau ditinggalkan.
Masalah muncul ketika perbedaan tafsir berubah menjadi usaha untuk mencabut salah satu akar. Ada yang ingin membersihkan Islam dari segala yang dianggap Jawa. Ada pula yang ingin menyelamatkan Jawa dengan menyingkirkan Islam dari sejarahnya.
Keduanya sama-sama berisiko membuat sejarah menjadi datar.
Sejarah Jawa tidak lahir dari satu lapisan tunggal. Ia dibentuk oleh kerajaan, perdagangan, dakwah, pesantren, sastra, kolonialisme, migrasi, konflik, dan perjumpaan panjang antarmasyarakat.
Jangkar yang Tidak Boleh Putus
Babad dan Serat tidak harus diperlakukan sebagai kitab suci sejarah. Naskah-naskah itu tetap perlu dibaca kritis: siapa penulisnya, untuk kepentingan apa ia ditulis, peristiwa mana yang dicatat, dan mana yang dibentuk sebagai simbol.
Namun, sikap kritis berbeda dari sikap meremehkan. Menolak membaca naskah klasik hanya karena ia mengandung mitos sama dengan menutup pintu menuju cara masyarakat masa lalu memahami dirinya sendiri.
Perpustakaan Nasional kini mengembangkan Khastara sebagai portal untuk menelusuri naskah kuno dan warisan dokumenter Nusantara. Kehadirannya menegaskan bahwa manuskrip bukan hanya benda rapuh di ruang penyimpanan, melainkan sumber pengetahuan yang masih dapat dibaca ulang oleh generasi baru.
Di titik itu, “jangkar mental” yang dimaksud Nur Khalik menemukan artinya. Bukan ajakan untuk kembali hidup di masa lalu, melainkan usaha agar masyarakat tidak kehilangan bahasa untuk menjelaskan dirinya sendiri.
Ketika Islam dan Jawa kembali dipertentangkan secara keras, naskah-naskah lama mengingatkan bahwa keduanya pernah tumbuh jauh lebih dekat daripada yang dibayangkan banyak orang hari ini.




Tinggalkan Balasan