Dalam perang itu, unsur keagamaan tidak berdiri di luar politik. Diponegoro menggerakkan jaringan bangsawan, petani, santri, dan tokoh agama. Kyai Maja dikenal sebagai salah satu penasihat spiritual penting dalam gerakan tersebut.

UNESCO bahkan menyebut Diponegoro sebagai bangsawan Jawa, pahlawan Indonesia, dan tokoh Pan-Islamis. Penandaan itu menunjukkan bahwa bahasa keagamaan dan identitas Jawa tidak hadir sebagai dua unsur yang saling meniadakan dalam pengalaman sejarah Diponegoro.

Nur Khalik membaca titik ini sebagai pelajaran penting. Perlawanan Diponegoro memperlihatkan bahwa ikatan keislaman, kesetiaan lokal, bahasa Jawa, dan ketidakpuasan terhadap kekuasaan kolonial dapat bertemu dalam satu gerakan.

Namun, setelah perang, cara pemerintah kolonial memahami masyarakat pribumi semakin bergantung pada pemisahan kategori. Ada adat, ada agama, ada politik, ada hukum kolonial. Dalam praktiknya, batas-batas itu tidak selalu sesuai dengan kenyataan sosial masyarakat Jawa.

Studi sejarah hukum kolonial menunjukkan bahwa hubungan antara hukum Jawa, hukum Islam, dan hukum Eropa tidak pernah sederhana. Ketiganya saling bersinggungan, saling berkompetisi, dan kerap diterjemahkan ulang oleh pejabat kolonial maupun elite lokal.

Di sinilah masalahnya. Ketika kategori administrasi diwariskan terlalu lama, masyarakat bisa mulai menganggapnya sebagai kenyataan alamiah. Islam diperlakukan sebagai sesuatu yang datang dari luar budaya Jawa, sedangkan Jawa dibayangkan sebagai sesuatu yang murni ada sebelum Islam.

Padahal, sejarahnya jauh lebih berlapis.

Babad dan Serat Tidak Pernah Sepenuhnya Sekuler

Jejak pertemuan Islam dan Jawa terlihat di banyak naskah. Babad Cirebon, misalnya, memuat kisah tentang pengislaman wilayah Cirebon dan proses pembentukan otoritas keagamaan di tanah Jawa bagian barat.

Serat Centhini, salah satu karya besar sastra Jawa, juga telah dikaji sebagai teks yang memuat pengalaman santri lelana dan mistik Islam Jawa. Artinya, dunia pesantren, perjalanan spiritual, bahasa Jawa, serta pengetahuan lokal hadir dalam satu ruang naratif.