Masuknya kesusastraan Islam ke Jawa pun tidak berhenti pada penerjemahan teks Arab. Kajian Perpustakaan Nasional menunjukkan bahwa teks-teks Islam berkembang melalui pusat-pusat pembelajaran, termasuk pesantren, lalu ikut memengaruhi pola sastra dan pengetahuan Jawa.

Karena itu, menyebut budaya Jawa sebagai tradisi yang sepenuhnya terpisah dari Islam juga sama bermasalahnya dengan menganggap Islam di Jawa baru sah apabila seluruh unsur lokalnya dibuang.

Nur Khalik menawarkan istilah “Iman Jawi” untuk membaca keterhubungan itu. Bukan sebagai agama baru, bukan pula campuran serampangan antara Islam dan budaya lokal, melainkan cara melihat bagaimana iman mengambil bentuk dalam bahasa, etika, arsitektur, seni, serta kebiasaan masyarakat Jawa.

Dalam cara pandang ini, tembang Macapat tidak otomatis diposisikan sebagai lawan agama. Atap tajug pada masjid juga tidak sekadar dianggap sisa tradisi pra-Islam. Keduanya dapat dibaca sebagai contoh bagaimana masyarakat menerjemahkan nilai keagamaan melalui bentuk lokal.

Pembacaan itu penting karena istilah “sinkretisme” sering digunakan terlalu mudah. Dalam ilmu sosial, istilah tersebut pernah dipakai untuk menjelaskan perjumpaan berbagai unsur keagamaan. Namun, ia juga kerap dikritik karena menyederhanakan pengalaman masyarakat seolah semua yang tidak seragam dengan model Timur Tengah adalah pencampuran yang tidak utuh.

Tidak semua unsur lokal otomatis membatalkan keislaman. Sebaliknya, tidak setiap ekspresi religius harus dipisahkan dari bahasa dan kebudayaan yang dipakai masyarakat untuk memahaminya.

[GRAFIK: Garis waktu relasi Islam dan Jawa — Perang Jawa 1825–1830, penulisan Babad Diponegoro 1831–1832, pembentukan kategori adat dan hukum kolonial, hingga debat identitas kontemporer.]

Tiga Jalan yang Masih Bertengkar

Nur Khalik memetakan sedikitnya tiga cara pandang terhadap relasi Islam dan Jawa. Pertama, jalan pemurnian yang cenderung memandang unsur budaya sebagai ancaman terhadap kemurnian agama.

Kedua, jalan sinkretisme yang melihat Islam Jawa terutama sebagai campuran unsur-unsur yang dianggap berasal dari tradisi berbeda. Pendekatan ini kerap menempatkan Islam sebagai lapisan tipis di atas budaya Jawa yang dianggap lebih tua dan lebih asli.