Agus Sunyoto mengajarkan satu hal mendasar: jangan membaca Nusantara dengan mata orang luar, jika kita ingin menemukan kembali sejarah yang lebih adil dan lebih jujur.
KOSONGSATU.ID – Ada masa ketika kita membaca sejarah sendiri, tetapi seperti sedang menatap cermin milik orang lain. Nama-nama tempat terasa asing, tokoh-tokohnya dipersempit, dan warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat justru dianggap ganjil di tanah kelahirannya sendiri.
Dalam lanskap seperti itulah mendiang Agus Sunyoto hadir, bukan sekadar sebagai penulis sejarah, melainkan sebagai pengganggu yang perlu: ia mengusik cara pandang yang telanjur mapan.
Bagi Agus Sunyoto, sejarah Islam di Nusantara tidak cukup dibaca sebagai susunan tanggal, pergantian kekuasaan, atau catatan kaku tentang siapa menaklukkan siapa. Sejarah adalah ruang untuk memahami bagaimana agama bertemu dengan manusia, bahasa, adat, dan pengalaman batin suatu masyarakat.
Karena itu, ia menolak cara baca yang memosisikan Nusantara hanya sebagai objek pasif dari tatapan luar. Di situlah letak keberanian intelektualnya.
Salah satu warisan terpenting Agus adalah penekanannya pada pendekatan emik, yakni upaya memahami masyarakat dari dalam dirinya sendiri.
Dalam sebuah forum Lesbumi PBNU, ia pernah mengingatkan bahwa selama ini kita terlalu sering memandang Indonesia dengan kacamata Eropa. Akibatnya, banyak hal tidak pernah benar-benar bertemu pada maknanya.
Kritik ini tampak sederhana, tetapi dampaknya besar: Agus sedang menantang fondasi cara kita menulis sejarah.
Lewat pendekatan itu, tradisi yang kerap dicurigai sebagai “bukan Islam” justru dibaca ulang sebagai bentuk perjumpaan yang organik antara Islam dan kebudayaan lokal.
Dalam sebuah wawancara dengan NU Online, Agus menegaskan bahwa tradisi seperti kenduri dan tahlilan tidak layak buru-buru dicap sebagai sisa agama lama. Ia justru menelusuri jejak historisnya, menunjukkan kaitannya dengan jaringan Islam yang datang dari luar Nusantara, lalu berakar di sini dengan wajar.
Di titik ini, Agus tidak sedang membela romantisme budaya. Ia sedang mengembalikan martabat pengalaman lokal sebagai sumber pengetahuan. Itulah mengapa tulisannya terasa berbeda.




Tinggalkan Balasan